Surabaya 02 Juni 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Kabar mengenai jurnal predator mulai meresahkan. Bermula dari jurnal predator Beall’s List dan Cabell’s International yang dikelola oleh Jeffrey Beall dan ia banyak merilis daftar jurnal predator di seluruh dunia.
Melalui Lembaga Inovasi, Pengembangan Jurnal, Penerbitan dan Hak Kekayaan Intelektual (LIPJPHKI) UNAIR, kini menggencarkan upaya edukasi publikasi ilmiah agar civitas akademika tidak terjebak pada praktik ilmiah yang menyesatkan.
Prof Hery Purnobasuki MSi PhD, Ketua LIPJPHKI UNAIR, menegaskan bahwa jurnal predator bisa dikenali dari beberapa indikator mencolok. “Kalau kirim hari ini, besok langsung ada jawaban, lantas patut dicurigai. Proses publikasi ilmiah seharusnya melalui tahap review yang ketat dan memakan waktu. Jika instan, pasti ada yang tidak beres,” ujarnya.
Tawaran Cepat Terbit Bukan Jaminan
Mengutip Kemendikbud Ristek, jurnal predator merupakan jurnal internasional dengan minimnya peer-review dan editorial board yang mencurigakan.
Biasanya, jurnal predator menjebak penulis dengan membebankan biaya publikasi dan janji terbit cepat. Bahkan, laman jurnal palsu kini bisa meniru nama, tampilan, dan logo jurnal agar tampak kredibel. “Ada juga yang pakai nama hampir sama dengan jurnal asli, tapi alamat dan editor-nya berbeda. Inilah yang kami sebut ‘jurnal hijacked’, sangat berbahaya karena bisa mengecoh,” ungkapnya.
Selain tampilan, Prof Hery menyarankan penulis memeriksa komposisi artikel per edisi. “Kalau satu terbitan isinya ratusan artikel, apalagi semua dari satu institusi atau satu negara, itu perlu diwaspadai. Internasional itu artinya partisipan lintas negara,” tegasnya.
Perkuat Literasi dan Etika Ilmiah
Sebagai langkah strategis, LIPJPHKI UNAIR memperkuat program literasi publikasi ilmiah dengan menyosialisasikan urgensi etika publikasi dan tata cara pengiriman manuskrip sesuai standar. “Paper tidak boleh dikirim ke banyak jurnal sekaligus seperti brosur. Itu melanggar etika. Kami selalu tekankan integritas dalam publikasi,” terangnya.
Prof Hery menyoroti pentingnya kontribusi aktif penulis dalam karya yang dipublikasikan. “Kalau hanya menempelkan nama di draft yang sudah jadi lalu diminta membayar, itu bukan kontribusi akademik. Ini praktik yang tidak sehat,” tegasnya.
Bangun Budaya Publikasi yang Etis
UNAIR menargetkan diri sebagai pusat edukasi publikasi ilmiah yang terbuka, etis, dan berdaya saing global. LIPJPHKI membuka akses pendampingan bagi dosen dan peneliti yang ingin mempublikasikan karya ilmiahnya secara berkualitas.
“Kami ingin membangun budaya yang mandiri dan berdaya. Tidak bergantung pada makelar atau pihak luar. Sebagai institusi, kami siap jadi contoh, menghasilkan publikasi berkualitas dan berintegritas,” pungkasnya. Keterangan Foto: FOTO Prof Hery Purnobasuki Drs MSi PhD Ketua Lembaga Inovasi, Pengembangan Jurnal, Penerbitan, dan HKI (LIPJPHKI). (far)
