Surabaya 18 Juli 2024 | Draft Rakyat Newsroom–Masalah sampah menjadi persoalan mendesak bagi warga Kota Batu, terutama setelah ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung pada akhir tahun lalu. Penutupan TPA ini memaksa warga untuk mengolah sampah secara mandiri di tingkat kelurahan. Namun, tanpa adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan minimnya inovasi, hasil pengolahan sampah belum maksimal.
Kelurahan Temas adalah salah satu yang telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R). Terdapat setidaknya 1.700 Kepala Keluarga (KK) yang menyetorkan sampah mereka ke tempat ini. Sampah yang diambil oleh petugas kemudian disortir berdasarkan jenisnya: organik, botol PET, kaca, dan kertas. Sampah organik merupakan jenis timbulan sampah terbanyak, mencapai 280 kg setiap harinya. Sebelumnya, metode composting menggunakan media biokonversi berupa maggot BSF (Black Soldier Fly) telah diterapkan.
Namun, menurut salah satu pengelola TPS3R Temas, metode ini telah ditinggalkan karena pemeliharaannya memerlukan waktu panjang dan perputaran uangnya lambat, hanya Rp 5.000 per kg maggot. “Kami sudah tidak menggunakan cara seperti itu karena pemeliharaannya perlu waktu panjang dan maggot ini perputaran uangnya lambat, yaitu hanya Rp 5.000 per kg. Maka dari itu, kami hanya menjual sampah-sampah organik kepada peternak bebek dan babi dengan harga Rp 5.000 per 20 kg sampah,” ungkap Bu Anik, pengelola TPS3R Temas yang didukung oleh Pak Adi Santoso, selaku lurah.
Menanggapi permasalahan tersebut, mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Departemen Kimia, dan Pendidikan Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya mengembangkan inovasi yang tidak hanya menangani masalah sampah namun juga meningkatkan aktivitas ekonomi di Kota Batu. Inisiatif ini berfokus pada pemanfaatan maggot menjadi petfood agar dapat meningkatkan nilai jual maggot dan menambah pemasukan bagi TPS3R Temas.
Menurut penelitian, kandungan protein dan lemak dari maggot BSF memiliki manfaat kesehatan bagi pencernaan, antibakteri, dan meningkatkan metabolisme. Dari sudut pandang ekonomi, kebutuhan petfood dalam negeri mencapai 60% produk impor, yang menyebabkan capital outflow dan kurangnya penyerapan tenaga kerja. Produk ini berpotensi meredam masalah tersebut.
Tim PKM-PM yang bernama “Temas Project” ini diketuai oleh Diva Zhafira Indirawardhana (Akuntansi, FEB) dengan anggota Yogi Aditya Nainggolan (Pendidikan Kedokteran Hewan, FKH), Revita Putri Amalia (Manajemen, FEB), Fidyah Dwi Cahya (Kimia, FMIPA), dan Nazhifa Jacinda Maheswari Abidin (Kimia, FMIPA), di bawah bimbingan Farah Wulandari Pangestuty, S.E., M.E., Ph.D dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Mereka mengadakan pelatihan pengolahan maggot menjadi petfood dan pelatihan cara branding produk serta menjualnya melalui media digital. Program ini didanai oleh Kemendikbudristek dan Universitas Brawijaya melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2024. “Bersyukur sekali memiliki anggota tim yang multi-disipliner sehingga kami mampu berkolaborasi dengan baik sesuai bidang keilmuan masing-masing,” ujar Diva, Ketua Tim, Kamis (18/7/2024).
Pada pelatihan pertama, karyawan di TPS3R diajarkan proses pembuatan petfood yang dimulai dengan mengeringkan maggot basah dan mencampurkannya dengan bahan lain sebagai sumber karbohidrat, serat, dan vitamin. Adonan yang telah tercampur rata dan kalis kemudian dibentuk menjadi pellet dan dikeringkan.
“Kegiatannya sangat menyenangkan, karyawan di sini antusias dengan pelatihan ini. Beberapa dari mereka bahkan melakukan tanya jawab dengan kami dan ada yang langsung mencoba membantu menggiling adonan,” tambah Yogi.
Di akhir kegiatan, salah satu anggota tim menyampaikan kesan dan harapan untuk program selanjutnya. “Kami akan segera kembali dengan pelatihan branding dan digital marketing yang tak kalah penting. Melakukan digital marketing itu mudah, murah, dan cepat karena kita hidup di era digital. Mayoritas orang mengakses internet yang memudahkan kegiatan sehari-hari. Harapannya, ini dapat mencapai konsumen yang lebih luas,” ujar Revita.
Dengan adanya program ini, diharapkan warga dapat secara mandiri mengolah sampah, sehingga dapat meningkatkan pendapatan bagi TPS3R Temas. Keberhasilan program ini diharapkan dapat direplikasi di TPS3R lain di Kota Batu, sehingga sampah yang awalnya merupakan masalah dapat menjadi berkah yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (naf)
