Surabaya 10 April 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Badan Pusat Statistik (BPS) Catat pada Maret 2025 Provinsi Jawa Timur terjadi inflasi sebesar 0,77 persen year on year (y-on-y) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,43 Inflasi. Inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga dari berbagai faktor, terutama tarif listrik dan komoditas kebutuhan bahan pokok.
Pada Maret inflasi tertinggi secara tahunan tercatat di Kabupaten Banyuwangi, sebesar 1,89 persen dengan IHK sebesar 108,63. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Bojonegoro sebesar 0,13 persen, dengan IHK sebesar 108,58.
“Deflasi terjadi Kota Kediri sebesar 0,04 persen, dengan nilai IHK terendah di antara wilayah lain, yaitu 106,13,” kata Kepala BPS Jatim Dr Zulkipli, M.Si Dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Jawa Timur, Selasa (08/04/2025),
Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 1,44 persen pada Maret 2025. Semua kabupaten dan kota di Jawa Timur yang masuk dalam penghitungan IHK mengalami inflasi.
Dari seluruh wilayah, Kabupaten Sumenep mengalami inflasi tertinggi m-to-m, yaitu sebesar 1,91 persen.
“Tidak hanya Jawa Timur, seluruh provinsi di Indonesia turut mengalami inflasi pada bulan yang sama,” ujar Zulkifli.
Penyebab utama terjadinya inflasi m-to-m di Jawa Timur adalah kenaikan tarif listrik. Komoditas ini memberikan andil paling besar terhadap inflasi, yaitu mencapai 42,82% atau sekitar 0,89 persen dari total inflasi bulan Maret 2025.
Kenaikan tersebut berkaitan dengan kebijakan penghapusan potongan tarif listrik sebesar 50% yang sebelumnya dinikmati oleh pelanggan prabayar. Sejak 1 Maret 2025, pelanggan prabayar mulai dikenakan tarif normal untuk pembelian token listrik.
” Untuk pelanggan pasca bayar masih mendapat manfaat tarif diskon karena pembayaran tagihan bulan Februari baru dilakukan pada bulan Maret,” ungkapnya.
Selain tarif listrik, beberapa komoditas lain yang turut mendorong inflasi adalah cabai rawit dengan kontribusi 25,36%, bawang merah 34,86 persen, emas perhiasan 3,99 persen, telur ayam ras 2,04 persen, dan beras 1,18 persen.
Komoditas beras menjadi perhatian khusus, karena mengalami inflasi di seluruh kabupaten/kota yang dihitung dalam IHK. Rata-rata harga beras pada bulan Maret 2025 tercatat sebesar Rp14.152 per kilogram, sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Menurut Zulkifli secara keseluruhan, inflasi yang terjadi di Jawa Timur selama Maret 2025 menunjukkan dampak nyata dari perubahan kebijakan subsidi listrik serta fluktuasi harga bahan pokok di pasar.
Pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat melakukan langkah antisipatif agar lonjakan harga tidak semakin membebani daya beli masyarakat.
“Dengan penyebab dan dampaknya, inflasi ini dapat menjadi indikator penting dalam perumusan kebijakan ekonomi ke depan terutama dalam menjaga stabilitas harga dan mendukung ketahanan pangan,” pungkas Zulkipli. (myo)
