More
    BerandaUncategorizedKuliah Tamu FIB UNAIR Kupas Sastra Etnik Sabah dalam Kesusastraan Nusantara

    Kuliah Tamu FIB UNAIR Kupas Sastra Etnik Sabah dalam Kesusastraan Nusantara

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 02 Juni 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan Universiti Malaysia Sabah sukses selenggarakan Kuliah Tamu. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Prapanca FIB Kampus Dharmawangsa-B pada Selasa (27/02/2025). Kuliah tamu ini juga menghadirkan dua narasumber kompeten yakni, Dr Henry Bating dan Dr Shakiratul Hanany Binti Abdul Rahman.

    Dalam pemaparan sesi pertama, Henry membahas terkait sastra etnik Sabah Malaysia dalam Konteks Sastra Nusantara. Menurutnya, bahasa dan sastra etnik di Sabah erat kaitannya dengan keberagaman sub-sub etnik yang hidup di wilayah tersebut.

    Perbandingan Kesusastraan

    Henry turut membandingkan perkembangan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dalam ranah sastra. Menurutnya, bahasa Indonesia telah berkembang pesat dan memperoleh pengakuan global, termasuk UNESCO. Bahasa ini telah diajarkan di berbagai negara berkat dukungan penuh dari masyarakat Indonesia.

    Kendati demikian, ia juga mencatat perbedaan pendekatan dalam memahami karya sastra antara Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, pembaca cenderung memahami isi karya sastra secara langsung. Sementara itu, di Malaysia, karya sastra banyak mengandung makna tersirat yang perlu ditafsirkan secara lebih mendalam. “Karya sastra di Malaysia seringkali menyembunyikan makna di balik cerita, dan itu yang dipelajari lebih lanjut,” jelasnya.

    Lebih lanjut, dalam pemaparannya, ia menyebutkan bahwa kesusastraan nusantara mencakup sastra etnik sabah dan sastra etnik sarawak. Kedua wilayah tersebut, memiliki kekayaan etnik yang sama dengan sastra daerah yang ada di Indonesia. “Kalau berbicara sastra Indonesia, ini memiliki kaitan dengan kalimantan utaran, berkaitan dengan etnik sabah, dia adalah masyarakat yang sama hanya dipisahkan perbatasan itu,” ujarnya.

    Pengajaran Bahasa Inggris

    Selaras dengan Henry, Shakiratul mengungkapkan terkait pengajaran sastra malaysia di sekolah menengah yang memperkenalkan motede Intregated Literature Component (ILC). ILC ini ditanamkan kedalam mata pelajaran bahasa inggris dan dinilai formal dalam ujian. Namun, kemudian digantikan dengan Literature in Action (LIA) yang pengajarannya mengaju pada Common European Framework of Reference (CEFR).

    Perubahan tersebut membawa dampak signifikan dalam pendekatan pengajaran sastra di sekolah. Sebelumnya pengajaran ini bertumpu pada pengajar, namun dalam LIA, fokus tersebut bergeser kepada pelajar. LIA ini diajarkan dengan keterampilan bahasa inggris dan dalam berbagai genre sastra. “Kita tidak lagi memberkan pesan dalam komponen sastra di ujian, pelajar sastra untuk kesenangan dan menggali kemampuan bahasa itu sendiri,” terangnya.

    Caption 1 : Dr Henry Bating sebagai narasumber pertama dalam Kuliah Tamu Selasa (27/02/2025)

    Caption 2 : Dr Shakiratul Hanany dalam pemateri pengajaran bahasa inggris. (naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru