Surabaya 17 Oktober 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Mareta Yusniare Putri, mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) yang mengharumkan almamater di panggung Duta Wisata. Ia terpilih menjadi Finalis Ning Surabaya dalam ajang Pemilihan Duta Wisata Cak & Ning Surabaya 2025.
Mareta, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa motivasinya mengikuti ajang bergengsi ini berawal dari dorongan keluarga dan ketertarikannya pada dunia pageant sejak lama. Namun, lebih dari itu, ia memiliki keinginan kuat untuk berkontribusi secara nyata dalam mempromosikan pariwisata dan budaya Kota Pahlawan.
“Motivasi terbesarku adalah keinginan untuk berkontribusi secara nyata dalam mempromosikan budaya dan pariwisata Surabaya. Aku percaya bahwa generasi muda memiliki peran penting sebagai wajah kota, dan melalui ajang ini aku ingin menjadi bagian dari gerakan yang memperkenalkan Surabaya dengan cara yang lebih kreatif dan inklusif,” ungkapnya.
Tantangan Seleksi dan Nilai Ksatria Airlangga
Perjalanan Mareta hingga berhasil menyandang selempang finalis tidaklah mudah. Ia harus melalui serangkaian proses seleksi yang panjang dan sangat menantang, mulai dari technical meeting, tiga tahap penyisihan, semi final, hingga masa karantina. Ia menyebut momen meet the judges saat karantina sebagai tahapan yang paling menguji mental.
“Tahapan yang paling menantang pas karantina yaitu meet the judges, berhadapan dengan para dewan juri. Di situ saya harus menunjukkan karakter, wawasan, dan kemampuan berkomunikasi. Tapi justru itu membuat saya belajar tentang percaya diri, pengetahuan, dan ketulusan dalam penyampaian kata,” tuturnya.
Sebagai seorang Ksatria Airlangga, Mareta membawa nilai Excellence with Morality ke dalam setiap tahapan kompetisi. Menurutnya, UNAIR telah mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya soal pencapaian pribadi, melainkan tentang kebermanfaatan bagi masyarakat.
“Di sini kita benar-benar diajarkan tentang etika dan bagaimana membangun personal branding. Itu semua memang mencerminkan sebagaimana anak-anak yang ada di dalam UNAIR,” jelasnya.
Advokasi Pariwisata dan Semangat Kolaborasi
Sejalan dengan tema ‘The Soul of Collaboration’ yang diusung Cak & Ning Surabaya tahun ini, Mareta memiliki misi untuk mengembangkan potensi wisata Surabaya yang belum banyak terjangkau. Ia ingin mengubah persepsi bahwa Surabaya hanya berisi pusat perbelanjaan dan kafe.
“Surabaya itu punya banyak wisata tapi jarang dijangkau oleh banyak orang. Aku ingin benar-benar mengenalkan wisata Surabaya, tidak hanya itu-itu saja, tapi ada banyak Kampung Wisata, Museum bersejarah, dan Wisata Kuliner,” tegasnya.
Untuk mewujudkan misinya, ia berencana untuk terjun langsung dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari media, pemerintah, pelaku usaha, hingga akademisi. “Saya percaya, pariwisata dan budaya akan berkembang jika kita bergerak bersama, bukan sendiri,” tambahnya.
Ia juga mendorong teman-teman mahasiswa UNAIR lainnya untuk berani keluar dari zona nyaman. “Jangan ragu untuk melangkah dan mencoba hal baru. Bawa nilai-nilai kampus, jaga karakter, dan percaya bahwa setiap langkah kecil kita bisa membawa dampak besar,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Mareta berpesan agar ajang duta tidak lagi dipandang sebelah mata. “Kalau banyak yang masih menganggap ini hanya ajang kecantikan atau kegantengan, itu salah. Ajang ini adalah tempat menimba ilmu,” ujarnya.(far)
