More
    BerandaUncategorizedAngkat Fenomena Pseudohistory, Mahasiswa FIB Raih Juara II Lomba Esai Nasional

    Angkat Fenomena Pseudohistory, Mahasiswa FIB Raih Juara II Lomba Esai Nasional

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 18 Oktober 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Maraknya fenomena pseudohistory atau sejarah semu di Indonesia, dorong mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) lahirkan karya esai inovatif. Melalui gagasan tersebut, tim yang beranggotakan Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin dan Kesya Azka Najhan berhasil meraih Juara II Lomba Esai Sanskerta yang diselenggarakan Universitas Sebelas Maret (UNS) pada Minggu (12/10/2025). Kompetisi ini mengusung tema “Sejarah dan Kebudayaan”, yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk mengkaji fenomena historis dan kebudayaan Indonesia secara kritis dan ilmiah.

    Angkat Fenomena Pseudohistory di Indonesia

    Dalam karyanya, Irsyad mengangkat isu pseudohistory atau sejarah semu yang kerap beredar di ruang publik, terutama era pasca reformasi 1998. Ia menjelaskan bahwa munculnya pseudohistory berkaitan erat dengan semakin terbukanya kebebasan berekspresi di masyarakat. Namun, di sisi lain, kebebasan tersebut seringkali disalahgunakan oleh pihak-pihak yang menyebarkan informasi sejarah yang keliru tanpa dasar akademik.

    “Kami menemukan pola bahwa pseudohistory mulai banyak beredar setelah reformasi. Di satu sisi, keterbukaan informasi memberi ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi, tapi di sisi lain juga membuka peluang munculnya klaim sejarah yang tidak benar,” jelas Irsyad.

    Peran Akademisi untuk Menangkal Pseudohistory

    Sebagai jawaban atas isu tersebut, mahasiswa UNAIR tawarkan solusi yang berorientasi pada penguatan komunikasi antara sejarawan akademik dan masyarakat luas. Menurutnya, salah satu akar dari menjamurnya pseudohistory adalah kurangnya jembatan antara dunia akademik dan ruang publik. Ia menilai bahwa sejarawan harus berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah termakan isu sejarah yang menyesatkan.

    “Sejarawan tidak boleh hanya berkutat di ruang akademik. Mereka harus menjadi garda terdepan penjaga kebenaran sejarah bangsa. Ketika ada isu yang menyesatkan, sejarawan perlu hadir untuk memberikan penjelasan yang berbasis data dan riset,” terangnya.

    Lebih lanjut, Irsyad memaparkan inisiatif seperti kanal edukasi sejarah yang aktif di media sosial dan menekankan perlunya literasi sejarah di masyarakat dalam meluruskan klaim pseudohistory. Ia menilai model semacam itu sebagai bentuk konkret komunikasi publik yang efektif.

    “Kanal edukasi sejarah memberi contoh bagaimana sejarah bisa disampaikan dengan cara yang menarik tanpa kehilangan substansi akademik. Pola komunikasi seperti itu yang kami jadikan inspirasi,” imbuhnya.

    Irsyad berharap gagasannya dapat mendorong kolaborasi antara akademisi dan publik dalam memperkuat literasi sejarah nasional. “Saya berharap masyarakat semakin kritis terhadap informasi sejarah yang beredar, dan mahasiswa UNAIR terus aktif menyuarakan nilai-nilai kebenaran,” pungkasnya.(far)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru