Surabaya 21 Oktober 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Membersihkan telinga dengan cotton bud ternyata berisiko mendorong kotoran masuk lebih dalam, melukai gendang telinga, dan menurunkan kemampuan pendengaran, terutama pada anak-anak.
Hal ini disampaikan oleh dr. Heru Agus Santoso, Dokter Spesialis THT Bedah Kepala dan Leher RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, dalam kegiatan skrining kesehatan gigi, mulut, dan THT gratis di SDN Kedondong 2, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Senin (20/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Bakti Sosial Peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur, hasil kolaborasi antara RSUD Haji Prov. Jatim, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, serta bersinergi dengan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).
Serumen Bukan Kotoran Biasa
Menurut dr. Heru, serumen atau kotoran telinga bukanlah kotoran biasa. Zat seperti lilin ini justru berfungsi melindungi liang telinga dari debu dan serangga kecil.
“Serumen itu normal, justru berfungsi menangkap debu dan hewan kecil. Nanti akan keluar sendiri karena posisi telinga memang miring,” jelasnya.
Masalah muncul ketika serumen didorong masuk ke dalam akibat pembersihan yang salah menggunakan cotton bud atau benda lainnya. Jika dilakukan terus-menerus, kotoran bisa menumpuk dan menyebabkan gangguan pendengaran, bahkan robeknya gendang telinga.
“Membersihkan telinga sendiri itu salah. Kalau dipaksakan bisa lecet, bahkan robek gendangnya. Organ manusia itu kan nggak ada tokonya,” tegas dr. Heru.
Dalam kegiatan skrining tersebut, sebagian besar siswa ditemukan memiliki serumen lunak, sementara beberapa anak mengalami serumen keras yang memerlukan tindakan lanjutan di puskesmas.
“Pembersihan dilakukan dengan teknik irigasi atau ekstraksi serumen, metode medis yang aman jika dilakukan oleh tenaga kesehatan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada cara aman membersihkan telinga secara mandiri. Masyarakat dianjurkan memeriksakan telinga secara rutin setiap enam bulan hingga satu tahun sekali di fasilitas kesehatan.
Temuan Pembesaran Amandel pada Anak
Selain masalah telinga, hasil pemeriksaan juga menemukan sejumlah anak mengalami pembesaran amandel (tonsil). Kondisi ini dapat menjadi sumber infeksi bila ukurannya terlalu besar atau sering mengalami peradangan.
“Kalau sudah besar sekali dan tidak mengecil lagi, berarti jaringan itu sudah seperti keloid. Sudah tidak berfungsi dan malah bisa jadi sumber infeksi,” ujarnya.
Untuk menjaga kesehatan tenggorokan dan amandel, dr. Heru menganjurkan pola makan sehat. Makanan seperti gorengan, makanan instan, dan minuman dingin sebaiknya dibatasi agar tidak memicu peradangan.
“Boleh makan gorengan atau mi instan, tapi jangan berlebihan. Semua yang berlebihan itu tidak baik,” pesannya.
dr. Heru juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan telinga sejak dini. Gangguan pendengaran dapat memengaruhi kemampuan bicara dan perkembangan sosial anak.
“Telinga itu salah satu pintu dunia selain mata. Kalau pendengaran terganggu sejak bayi, anak bisa jadi tidak bisa bicara karena tidak mendapat masukan suara,” pungkasnya.
Melalui kegiatan bakti sosial ini, RSUD Haji Provinsi Jawa Timur bersama instansi terkait tidak hanya memperingati HUT ke-80 Pemprov Jatim, tetapi juga memperkuat komitmen membangun generasi muda yang sehat dan berpengetahuan.
Edukasi kesehatan telinga dan THT diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga fungsi pendengaran dan kesehatan tenggorokan sejak usia dini.(vin)
