Surabaya 12 Desember 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Kabar membanggakan datang dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga. Pada tahun 2025 ini, UNAIR berhasil menjadi delegasi tunggal dalam Animal Welfare Indonesia International Conference (AWIIC) 2025 yang digelar di Royal Kuningan Hotel, Jakarta (10/12/2025). Konferensi internasional tersebut menjadi ruang pertemuan bagi pimpinan, ilmuwan, praktisi, dan aktivis dari berbagai negara untuk memperkuat aksi nyata di bidang kesejahteraan hewan melalui kolaborasi riset, kebijakan, serta inovasi yang berkelanjutan.
Di bawah bimbingan drh. Amung Logam Saputro M Si, Amalia Sofi mahasiswa kedokteran FIKKIA tampil sebagai perwakilan UNAIR dengan mempresentasikan paper dan poster ilmiah tentang kesejahteraan satwa eksotik. Fokus penelitiannya adalah praktik topeng monyet. Sebuah atraksi tradisional yang masih dijadikan mata pencaharian di beberapa wilayah Indonesia. Keikutsertaan ini menjadi pengalaman istimewa baginya.
“Saya merasa perlu menyuarakan kondisi satwa yang selama ini tidak memiliki ruang untuk didengar. Penelitian ini lahir dari keprihatinan saya melihat hewan eksotik yang sering kali diperlakukan bukan sebagai makhluk hidup, tetapi sebagai alat hiburan,” ungkapnya.
Satwa Eksotik Terlindungi
AWIIC 2025 yang diselenggarakan oleh Yayasan JAAN Domestic Indonesia dan FOUR PAWS International menjadi konferensi terbesar pertama di Indonesia yang memadukan prinsip Five Freedoms dengan pendekatan One Health. Acara dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang menegaskan komitmen pemerintah melalui Pergub No. 36/2025 mengenai pengendalian rabies, pencegahan perdagangan satwa ilegal, dan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan kota ramah satwa.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menata masa depan kota yang lebih berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam penelitiannya yang berjudul Evaluation of Primate Welfare in Dancing Monkeys Practices: A Study of the Street Entertainment Industry, Amalia mengurai tentnag monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang mengalami eksploitasi melalui praktik pengurungan kronis, pelatihan paksa, kecukupan nutrisi yang buruk, stres berkepanjangan, serta pencegahan perilaku sosial alami. Kondisi tersebut tidak hanya melanggar prinsip kesejahteraan hewan, tetapi juga meningkatkan risiko zoonosis dan mengancam keberlanjutan populasi yang menurun hingga 40 persen dalam empat dekade terakhir.
Partisipasi dalam AWIIC 2025 memberikan dampak luas, mulai dari publikasi internasional, perluasan jejaring PB PDHI–FOUR PAWS, hingga rekomendasi kebijakan terkait harmonisasi standar WOAH/OIE.
“Saya berharap penelitian ini menjadi langkah kecil yang membuka jalan menuju perubahan besar bagi kesejahteraan satwa eksotik di Indonesia,” papar Amalia. (far)
