Surabaya 28 Desember 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Sabtu, 27 Desember 2025, bertempat di Balai Pemuda, Gedung Merah Putih, saya hadir secara tak sengaja ke sebuah acara kebudayaan tentang menumbuhkan jiwa arek. Bagi saya ini sebuah tempat menarik ditengah kondisi Surabaya yang saat ini diwarnai konflik kedaerahan dan premanisme. Yang mengusik ketenangan warga.
Surabaya hari ini tengah berada pada titik rawan yang tidak boleh diabaikan. Di balik citranya sebagai kota metropolitan yang maju dan dinamis, tersimpan konflik laten yang kian mengeras: gesekan antar kelompok yang merasa paling berhak, paling kuat, dan paling berkuasa atas ruang-ruang hidup kota—terutama pada sektor kerja informal.
Akses terhadap lahan parkir, terminal bayangan, wilayah jasa, hingga ruang ekonomi rakyat menjadi ajang perebutan kekuasaan berbasis solidaritas sempit. Konflik yang seharusnya dapat dikelola secara sosial dan kebijakan justru dibiarkan tumbuh menjadi benturan terbuka, bahkan menelan korban jiwa.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan kriminalitas atau ketertiban umum. Ia adalah cermin rapuhnya kohesi sosial kota. Ketika identitas kedaerahan, kelompok, atau afiliasi tertentu dipakai sebagai alat klaim dan dominasi, kota kehilangan watak dasarnya sebagai ruang bersama. Yang muncul bukan solidaritas warga, melainkan kompetisi destruktif; bukan gotong royong, melainkan logika menang-kalah yang mengorbankan nilai kemanusiaan.
Di titik inilah Surabaya menghadapi ujian serius sebagai centre of gravity. Kota yang seharusnya menjadi ruang integrasi justru terancam terfragmentasi oleh ego sektoral dan kedaerahan. Jika dibiarkan, konflik ini tidak hanya merusak rasa aman, tetapi juga menggerogoti fondasi sosial kota, memperlemah kepercayaan antarwarga, dan menghambat langkah Surabaya menuju kota global yang humanis dan berkelanjutan.
Konferensi Arek Suroboyo hadir dalam konteks krisis ini—bukan sebagai seremoni identitas, tetapi sebagai ruang refleksi dan koreksi bersama. Ia membawa pesan penting tentang perlunya menumbuhkan kembali jiwa arek sebagai etos kebersamaan kota. Jiwa arek bukan legitimasi kekuasaan kelompok, melainkan nilai moral untuk menjaga kota agar tetap manusiawi.
Surabaya sejak lama dikenal bukan sekadar kota besar, melainkan ruang perjumpaan. Ia tumbuh sebagai pusat tarikan sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang mempertemukan beragam manusia dari berbagai daerah, suku, agama, dan latar belakang sosial ekonomi. Dalam dinamika itu, tantangan terbesar Surabaya hari ini bukan semata pembangunan fisik, melainkan pembangunan kesadaran kolektif: bagaimana menjadikan keragaman sebagai kekuatan, bukan sumber konflik.
Konferensi Arek Suroboyo menegaskan kembali bahwa kita bukan lagi “orang daerah yang tinggal di Surabaya”, tetapi “orang Surabaya yang berasal dari daerah”.
Perubahan paradigma ini sangat mendasar. Selama identitas kedaerahan ditempatkan sebagai titik utama, relasi sosial mudah terjebak pada sekat primordial: solidaritas sempit, klaim wilayah, hingga pembenaran kekerasan atas nama kelompok.
Menjadi orang Surabaya berarti menjadikan kota ini sebagai rumah bersama. Rumah yang tidak boleh dikuasai oleh satu kelompok, tetapi dirawat oleh semua. Di dalam rumah, ada interdependensi yang harus dijaga—bahwa keselamatan, kesejahteraan, dan masa depan kota bergantung pada kemampuan warganya menahan ego dan membangun kepercayaan lintas identitas.
Jiwa arek sejatinya lahir dari semangat egaliter dan keberanian kolektif. Ia tidak mengenal hierarki kedaerahan, tidak memberi ruang bagi arogansi kelompok, dan menolak logika kekuasaan yang menindas. Arek Suroboyo diukur bukan dari seberapa luas wilayah yang ia kuasai, tetapi dari seberapa besar tanggung jawab yang ia ambil untuk menjaga kotanya.
Dalam konteks Surabaya sebagai kota global, konflik berbasis klaim informal dan solidaritas sempit adalah alarm keras. Kota global tidak tumbuh dari dominasi, melainkan dari tata kelola yang adil dan budaya warga yang dewasa. Kota yang maju dan modern harus berdiri di atas nilai humanisme: penghormatan pada hidup, kerja, dan martabat setiap warga, terutama mereka yang berada di sektor informal. Karena itu, semangat 2026 harus dimaknai sebagai momentum pendewasaan sosial. Saatnya perasaan kedaerahan dileburkan dalam identitas Surabaya yang inklusif. Bukan menghapus asal-usul, tetapi menempatkannya sebagai kekayaan budaya, bukan alat klaim kekuasaan.
Surabaya membutuhkan warga dengan jiwa arek yang hidup: berani menolak kekerasan, tegas melawan sektarianisme, dan dewasa dalam mengelola perbedaan. Warga yang sadar bahwa kota ini hanya akan tumbuh bila dirawat bersama, bukan diperebutkan.
Pada akhirnya, menjadi Arek Suroboyo adalah pilihan etis. Pilihan untuk tidak tunduk pada ego kelompok. Pilihan untuk menjadikan Surabaya sebagai rumah bersama yang aman, adil, dan bermartabat. Di tengah konflik dan gesekan, jiwa arek harus kembali menjadi kompas moral kota—agar Surabaya tetap manusiawi di tengah modernitas, dan tetap bersatu dalam keragaman.
Penulis : M. Isa Ansori, adalah Kolumnis dan Akademisi, Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Kota Surabaya, Wakil Ketua Tim Transformasi Lembaga Kebudayaan Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim
