More
    BerandaUncategorizedKolaborasi Arek Surabaya, Ormas Kedaerahan dan Surabaya yang Rentan Konflik

    Kolaborasi Arek Surabaya, Ormas Kedaerahan dan Surabaya yang Rentan Konflik

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 30 Desember 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Senin, 29 Desember 2025, saya menghadiri sebuah event yang bertajuk “Kolaborasi Arek Suroboyo” dan “Sumpah Arek Suroboyo dalam menjaga kotanya dan memerangi aksi premanisme”, kegiatan ini digelar di kawasan Kota Lama, Jembatan Merah dan dihadiri juga oleh Walikota Surabaya, Cak Eri Cahyadi.

    Meski diguyur hujan deras sore itu, tak mengurangi semangat arek Suroboyo hadir. Mereka berasal komunitas komunitas dan organisasi masyarakat yang berasal dari suku suku dan kedaerahan yang berada di Surabaya. Semangat yang diusung adalah semangat menjaga Surabaya dari tindakan tindakan kekerasan dan premanisme.

    Arek Surabaya adalah Mereka yang berasal dari daerah daerah dan bertekad menjaga dan merawat Surabaya, agar damai, rukun, guyub dan tentram. Arek Surabaya itu berani, jujur, terbuka dan bertanggung jawab. Bagi mereka siapapun yang mengganggu ketentraman, kerukunan dan keguyuban masyarakat, mereka bukanlah arek Suroboyo dan perilakunya harus dilawan, karena merugikan banyak orang.

    Surabaya adalah kota tujuan migrasi dan pusat ekonomi Jawa Timur. Data BPS menunjukkan arus pendatang yang tinggi tidak selalu diimbangi oleh perluasan lapangan kerja formal. Akibatnya, banyak perantau bertahan di sektor informal yang minim regulasi dan perlindungan. Dalam ruang inilah ormas kedaerahan tumbuh sebagai jaringan solidaritas dan pengaman sosial.

    Solidaritas ini manusiawi, tetapi rentan berubah menjadi konflik ketika sumber penghidupan diperebutkan. Teori Maslow dan konflik sosial menjelaskan bahwa kekerasan sering lahir dari kebutuhan dasar yang tak terpenuhi, bukan semata watak kelompok. Persoalan utamanya bukan keberadaan ormas kedaerahan, melainkan absennya negara dalam mengelola sektor informal secara adil dan berkelanjutan.

    Sebagai kota industri dan jasa, Surabaya memang menawarkan peluang. Namun BPS juga mencatat bahwa sektor informal masih menyerap bagian penting tenaga kerja perkotaan, terutama mereka yang berpendidikan rendah dan tidak terserap industri. Pekerjaan informal—seperti parkir, jasa keamanan lingkungan, atau kerja berbasis wilayah—hidup di ruang abu-abu: legal secara kebutuhan, tetapi rapuh secara hukum.

    Dalam kondisi demikian, solidaritas kedaerahan menjadi sandaran utama para perantau. Teori identitas sosial menjelaskan bahwa rasa senasib dan seasal membentuk ikatan kuat. Ormas kedaerahan kemudian berfungsi sebagai ruang perlindungan, distribusi informasi kerja, bahkan pengaman sosial ketika negara tidak hadir secara efektif.

    Masalah muncul ketika solidaritas ini berkembang tanpa pengelolaan. Ketika ruang ekonomi sempit dan aturan tidak jelas, konflik antarkelompok mudah meledak. Sosiolog Lewis A. Coser menyebut konflik semacam ini sebagai konsekuensi dari kelangkaan sumber daya, bukan sekadar penyimpangan moral. Kekerasan, dalam banyak kasus, adalah gejala, bukan akar masalah.

    Sayangnya, respons yang sering muncul adalah penertiban dan stigmatisasi. Padahal, menurut Durkheim, kekosongan norma dan lemahnya kehadiran negara justru mendorong kelompok sosial menciptakan aturan sendiri. Ormas kedaerahan lalu diposisikan sebagai masalah, bukan sebagai sinyal adanya kegagalan tata kelola sosial.

    Surabaya tidak kekurangan ketegasan, tetapi masih kekurangan kehadiran negara di lapisan bawah. Yang dibutuhkan bukan hanya penegakan hukum, melainkan perluasan kerja formal, pengelolaan sektor informal yang adil, serta pembinaan ormas kedaerahan sebagai modal sosial. Tanpa itu, konflik akan terus berulang—dengan nama kelompok berbeda, tetapi cerita yang sama.

    Menjadikan Surabaya sebagai rumah bersama adalah keniscayaan dan sudah saatnya kita semua yang berasal dari daerah daerah dan tinggal di Surabaya merubah paradigmanya dengan mengatakan bahwa saya adalah Arek Suroboyo yang berasal dari daerah daerah dan bersuku suku, bukan sebaliknya saya adalah orang daerah yang tinggal di Surabaya.

    Surabaya, 30 Desember 2025

    Tentang Penulis :

    M. Isa Ansori adalah Kolumnis dan Akademisi, Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Kota Surabaya, Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru