Surabaya 2 Januari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Alumnus Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Jokhanan Kristiyono, ST MmedKom, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS). Ia merupakan salah satu lulusan berprestasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Karier Jo, sapaan akrabnya, di bidang akademik khususnya komunikasi terbilang cukup unik. Jo memulai pendidikan di bidang teknik mesin pada tahun 1994. Kendati demikian, Jo sebenarnya lebih menyukai bidang desain komunikasi visual (DKV). Setelah lulus, ia bekerja di salah satu perusahaan yang berada di Banyuwangi. Pada tahun 2000, ia kembali ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan S1 pada bidang yang sama dan lulus pada tahun 2005. Selepas itu, Jo lebih banyak bekerja di bidang webmaster dan mulai merambah pada promosi.
“Sekitar tahun 2006, saya pindah pekerjaan, lebih banyak memegang marketing communication berbasis digital. Di situ mulai struggling karena saya merasa tidak cukup kompetensi teknis saya kalau tidak dibantu dengan peningkatan kemampuan teoritisnya, sehingga saya berpikir bahwa sepertinya saya harus belajar lagi,” katanya.
Perjalanan sebagai Pendidik
Keputusan Jo untuk menempuh pendidikan lanjut berlabuh pada UNAIR, tepatnya ada studi Media dan Komunikasi, FISIP. “Saya berpikir di sini studinya bisa langsung saya implementasikan di pekerjaan saya, meskipun tetap harus di-adjust antara teori dan kenyataan serta fenomena yang ada di masyarakat seperti apa,” imbuhnya.
Jo menamatkan studi magister di UNAIR dalam waktu yang cukup singkat, yakni tiga semester. Setelah lulus, Jo mendapatkan tawaran untuk menjadi tenaga pengajar di STIKOSA AWS pada awal 2012. Tak perlu berpikir panjang, Jo menerima tawaran tersebut, mengingat ia juga merasa memiliki passion dan kesenangan terhadap dunia pendidikan.
“Saya sebetulnya suka mengajar, karena di pekerjaan lama juga sempat membantu mengajar meskipun posisinya manager marketing program studi pada salah satu universitas swasta. Saat itu saya mengajar desain komunikasi visual dan di IT mengajar komunikasi interaksi atau yang sekarang dikenal dengan UI/UX,” ucapnya.
Memulai perjalanan sebagai seorang pendidik membuat Jo enggan berhenti belajar. Baginya, semakin banyak yang ia ajarkan pada orang lain, semakin banyak pula pengetahuan yang harus ia dapatkan. Untuk itu, Jo melanjutkan kembali pendidikannya pada tahun 2017, di almamater yang sama yakni FISIP UNAIR, melalui beasiswa khusus dosen. Tuntas dengan waktu singkat, Jo berhasil lulus pada awal tahun 2020.
Berbekal Kompetensi dan Integritas
Lama mengabdi sebagai dosen, Jo akhirnya diutus menjadi Ketua STIKOSA AWS periode 2023-2027. Jo mengaku sempat menolak penunjukkan tersebut, lantaran ia merasa masih ada banyak senior yang lebih layak. Namun, kompetensi dan integritas yang dimilikinya menjadi faktor utama yang membuatnya diamanahi untuk memimpin kampus tersebut.
Sebagai pemimpin, ada banyak hal baru yang harus Jo pelajari. Budaya organisasi, hingga perbedaan karakter orang-orang yang ia pimpin, menjadi tantangan tersendiri yang harus ia hadapi. “Salah satu hal yang mungkin menjadi tantangan adalah mengubah budaya organisasi, ya. Meskipun ini adalah kampus yang sudah cukup lama, tetapi masih ada banyak hal yang harus kita kembangkan. Mungkin dosen-dosennya sudah siap, tetapi secara manajemen budaya kan tidak terlihat, misalnya sudah ada SOP, tetapi bagaimana implementasinya?” terangnya.
Untuk itu, selama memegang kewenangan untuk memimpin STIKOSA AWS, Jokhanan ingin mengimplementasikan nilai-nilai khusus, antara lain berbudaya dan beradab. Kedekatan antara dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa juga menjadi salah satu fokus yang ia jaga. Pasalnya, merekalah roda penggerak universitas yang sesungguhnya.
Tidak hanya itu, ia juga ingin menciptakan iklim akademik yang lebih egaliter dan tidak ada pengkotak-kotakan bidang ilmu. “Artinya, kita semua bisa berkolaborasi meskipun bidang ilmu yang kita kuasai berbeda-beda. Apalagi sudah ada begitu banyak dukungan riset kolaborasi multidisiplin ilmu dari pemerintah, sehingga saya harap tidak ada lagi pengkotak-kotakan semacam itu,” tuturnya. (naf)
