More
    BerandaPendidikanBangga Bisa Berbagi, Mahasiswa UNAIR Ajari UMKM Bikin Website

    Bangga Bisa Berbagi, Mahasiswa UNAIR Ajari UMKM Bikin Website

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 28 Januari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Belajar Bersama Komunitas (BBK) menjadi wadah nyata bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan disiplin ilmu yang diperoleh selama perkuliahan. Tinggal dan hidup berdampingan dengan masyarakat selama beberapa minggu memberikan pengalaman berharga. Sekaligus membuka ruang kontribusi langsung bagi pembangunan desa.

    Hal tersebut dirasakan oleh Hafid Aditya Wicaksana, mahasiswa Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga (UNAIR). Melalui program BBK, Hafid membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah mampu memberikan manfaat konkret. Khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di desa.

    Optimalisasi Website untuk UMKM Desa

    Hafid menuturkan bahwa ketertarikannya pada pengembangan website berawal dari tugas perkuliahan di semester lima. Saat itu, ia mendapatkan tugas untuk membuat sebuah website. Menurutnya, sebagai mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan, kemampuan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

    Website harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, di mana pun berada. Keberadaan website penting untuk menjaga eksistensi suatu lembaga maupun usaha, sekaligus memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi,” jelasnya.

    Namun, ketika terjun langsung ke Desa Banjarrejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, Hafid menyadari bahwa pemahaman masyarakat terhadap pembuatan website masih sangat terbatas. Kendala utama yang dihadapi adalah minimnya pengetahuan tentang bahasa pemrograman serta anggapan bahwa pembuatan dan publikasi website membutuhkan biaya yang mahal.

    Menanggapi hal tersebut, Hafid bersama tim BBK menawarkan solusi yang lebih sederhana dan terjangkau. Mereka memanfaatkan website builder gratis serta domain dengan harga ekonomis, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan UMKM desa yang masih berskala kecil.

    “Target pengguna belum terlalu besar, sehingga tidak memerlukan sistem yang kompleks. Kesulitan dalam memahami bahasa pemrograman bisa diatasi dengan mencoba dan mempelajarinya secara bertahap,” ungkap Hafid.

    Melalui pendekatan tersebut, Hafid dan tim berhasil mendampingi sejumlah pelaku UMKM dalam membuat website sederhana untuk usaha mereka. Tidak hanya pelaku UMKM, masyarakat umum hingga anak-anak pun turut antusias mengikuti kegiatan praktek pembuatan website.

    Banjarrejo, Desa dengan Potensi dan Kreativitas

    Selama menjalani BBK, aktivitas Hafid tidak hanya terfokus pada program kerja. Ia dan rekan-rekannya juga berupaya mengenal Desa Banjarrejo lebih dalam. Salah satunya dengan terlibat langsung membantu petani di sawah. Pengalaman tersebut memberinya wawasan baru mengenai proses bertani sekaligus berbagai tantangan yang dihadapi para petani.

    Selain sektor pertanian, Hafid juga melihat potensi kreativitas desa dalam pengelolaan sumber daya. Desa Banjarrejo memanfaatkan waduk tidak hanya sebagai sumber pengairan sawah dan ladang, tetapi juga disewakan sebagai sumber pendapatan tambahan desa. Dana tersebut kemudian digunakan untuk mendukung pembangunan dan kepentingan bersama masyarakat.

    Pengalaman BBK ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan masyarakat dapat menciptakan desa yang berdaya. Bagi Hafid, BBK bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan ruang belajar sekaligus pengabdian yang memberikan makna nyata.(naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru