Surabaya 30 Januari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Penanganan kanker kandung kemih perlu dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan kondisi fisik, psikologis, sosial, ekonomi, hingga spiritual penderita. Hal tersebut disampaikan Prof Dr Wahjoe Djatisoesanto dr SpU Subsp Onk dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar Bidang Urologi Onkologi Universitas Airlangga (UNAIR) pada Kamis (29/1/2026) di Aula Garuda Mukti, Gedung Manajemen, Kampus MERR-C.
Urologi onkologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari keganasan kanker pada saluran kemih dan sistem reproduksi. Penanganan kanker diarahkan pada keberhasilan terapi sekaligus memastikan pasien tetap mampu menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik pasca pengobatan.
“Kanker kandung kemih termasuk jenis kanker yang ganas dengan angka kejadian yang terus meningkat di dunia. Faktor risiko utamanya meliputi kebiasaan merokok serta paparan bahan kimia tertentu, khususnya pada lingkungan kerja,” jelas Prof Wahjoe.
Gejala awal yang sering muncul berupa kencing bercampur darah tanpa rasa nyeri, sehingga kerap diabaikan oleh penderita. Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan klinis yang cermat, didukung pemeriksaan laboratorium dan pencitraan seperti ultasonografi, CT-scan, dan MRI. Pemeriksaan tersebut penting untuk menentukan stadium kanker dan menjadi dasar pemilihan terapi yang paling sesuai.
“Banyak pasien datang dalam kondisi stadium lanjut karena menganggap kencing berdarah sebagai keluhan ringan, padahal pada stadium awal, kanker sering tidak menimbulkan rasa sakit,” tambahnya.
Perkembangan teknologi kedokteran memungkinkan penerapan operasi invasif minimal seperti laporoskopi dan bedah berbantuan robot. Metode ini memberikan keuntungan berupa luka operasi lebih kecil, pendarahan minimal, serta masa pemulihan yang lebih singkat.
“Penanganan kanker kandung kemih perlu kerjasama multidisiplin yang baik, antara dokter urologi subspesialis onkologi, radiologis, patologis, onkologi medis, rehabilitasi medis dan perawat terlatih untuk perawatan stoma,” tuturnya.
Pemilihan terapinya harus memperhatikan stadium kanker, dan keberadaan penyakit penyerta. Pengambilan keputusan terapi juga harus didiskusikan dengan pasien dan keluarganya agar mereka mengerti tentang tujuan utama pengobatan.
Prof Wahjoe mendorong peningkatan edukasi pada masyarakat mengenai pola hidup sehat dan pentingnya deteksi dini kanker kandung kemih. Pemeriksaan medis sejak awal dinilai mampu meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien. (naf)
