Surabaya 3 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Trilyunan rupiah untuk proyek megah berjalan, sementara dukungan pendidikan mental dan kesejahteraan jiwa anak-anak di daerah terpencil masih tertinggal. Sepucuk surat dari seorang siswa SD di NTT menjadi panggilan nurani bagi negara dan masyarakat.
Di sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, seorang siswa SD kelas IV mengakhiri hidupnya, meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Surat itu bukan sekadar tulisan anak-anak, melainkan teriakan hati yang tak terdengar, harapan yang tak terpenuhi, dan rasa sakit yang tak tertangani.
Tragedi ini bukan hanya kisah tragis seorang anak; ini adalah cermin dari kegagalan sistem pendidikan, perlindungan anak, dan prioritas anggaran di negara kita.
Anak-anak di daerah terpencil menghadapi tekanan yang terlalu berat — dari beban ekonomi keluarga, tuntutan sekolah, hingga kurangnya dukungan emosional.
Sekolah, yang seharusnya menjadi tempat belajar, bermain, dan merasa aman, seringkali hanya menjadi tempat menumpuk buku dan nilai. Layanan psikologis dan literasi emosional nyaris tidak ada. Anak-anak menghadapi masalah batin sendirian, tanpa telinga yang mendengar, tanpa guru atau konselor yang mampu mendeteksi tanda bahaya sejak dini.
Sementara itu, pemerintah mengalokasikan trilyunan rupiah untuk program-program besar seperti MBG. Anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk menyediakan konselor di setiap sekolah, pelatihan guru untuk kesehatan mental, dan program literasi emosional, nyatanya tersedot untuk proyek besar yang terlihat megah di angka, tetapi tidak menyentuh hati dan nyawa anak-anak di desa terpencil.
Ini adalah kontradiksi yang menyakitkan: trilyunan rupiah tersedia, namun anak-anak tetap merasa sendirian, tidak aman, dan kehilangan harapan. Pendidikan bukan sekadar angka di rapor atau kenyang perut. Pendidikan adalah menumbuhkan kecerdasan hati, ketahanan mental, dan kemampuan anak untuk menghadapi hidup dengan utuh.
Sepucuk surat dari NTT adalah alarm nasional: nyawa anak-anak lebih berharga daripada megahnya proyek trilyunan, dan kecerdasan mereka tidak bisa dibeli dengan angka anggaran yang besar tanpa perhatian nyata. Kegagalan mendengar suara mereka adalah kegagalan kita semua.
Sudah saatnya kita menata ulang prioritas anggaran: menyeimbangkan proyek besar dengan investasi nyata pada pendidikan mental dan emosional anak. Agar tidak ada lagi anak yang mengakhiri hidupnya karena merasa tak ada yang peduli, dan agar setiap rupiah dari trilyunan anggaran benar-benar sampai pada yang paling membutuhkan: masa depan generasi penerus kita.
Tragedi ini adalah panggilan nurani: perut anak bisa terjaga, tetapi hatinya tidak boleh terluka. Pendidikan dan perhatian pada kesejahteraan mental anak adalah tanggung jawab kita bersama. Jika kita gagal di sini, kita gagal bukan hanya pada seorang anak, tetapi pada seluruh masa depan bangsa.
M. Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi, Pengurus Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) dan Wakil Ketua ICMI Jatim.
