More
    BerandaUncategorizedSuara Pilu Dari Bangkingan : Peringatan Sunyi, Saatnya SPARTA Hadir di Setiap...

    Suara Pilu Dari Bangkingan : Peringatan Sunyi, Saatnya SPARTA Hadir di Setiap RT

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 16 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Bangkingan bukan sekadar nama kampung di sudut Surabaya. Ia telah berubah menjadi cermin. Cermin yang memantulkan wajah kita sebagai kota—apakah kita sungguh hadir bagi anak-anak, atau hanya sibuk merawat predikat dan kebanggaan administratif?

    Tragedi yang terjadi di sana adalah peringatan sunyi. Sunyi karena ia tidak diawali sirene. Sunyi karena tanda-tandanya mungkin pernah ada, tetapi luput terbaca. Dan lebih sunyi lagi karena seperti banyak kasus sebelumnya, sistem sering kali baru bergerak setelah jeritan pecah.

    Kita pernah terguncang oleh kisah pilu di Nusa Tenggara Timur: seorang anak memilih mengakhiri hidupnya karena tak tega melihat orang tuanya kesulitan memenuhi permintaan sederhana—buku dan pena. Permintaan yang bagi sebagian kita terasa kecil, tetapi bagi dirinya menjadi beban moral yang tak tertanggungkan. Lagi-lagi, sistem hadir setelah semuanya selesai.

    Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa yang salah. Pertanyaannya adalah: mengapa kita selalu datang terlambat?

    Kota dengan Instrumen, Tapi Tanpa Orkestrasi

    Surabaya sejatinya tidak miskin perangkat. Di tingkat paling mikro ada RT dengan manajemen kerukunan yang kuat. Ada Posyandu yang rutin memantau tumbuh kembang anak. Ada kader sosial seperti KSH. Ada sekolah, puskesmas, dinas sosial, dan berbagai program perlindungan.

    Instrumen tersedia.
    Namun tragedi mengajarkan satu hal penting: memiliki perangkat tidak sama dengan memiliki sistem.

    Kita seperti orkestra yang lengkap alat musiknya, tetapi tanpa konduktor. Setiap elemen berjalan sendiri-sendiri, tanpa integrasi deteksi dini yang padu.

    Anak tidak pernah tiba-tiba hancur. Selalu ada gejala kecil yang mendahului: perubahan perilaku, absen sekolah, tekanan ekonomi keluarga, isolasi sosial, atau luka yang disembunyikan. Jika gejala itu tak terbaca, maka tragedi hanya soal waktu.

    SPARTA: Dari Gang Kecil Menuju Sistem Besar

    Karena itu, kita membutuhkan SPARTA — Sistem Perlindungan Anak di Tingkat Rukun Tetangga. Bukan sekadar slogan, melainkan arsitektur sosial yang hidup di gang-gang tempat anak tumbuh.

    SPARTA berdiri di atas empat fondasi:

    Pertama, pemetaan anak rentan berbasis RT.

    Setiap RT memiliki data sederhana namun aktif tentang anak-anak dengan risiko ekonomi, psikologis, disabilitas, atau konflik keluarga. Data ini bukan untuk memberi label, tetapi untuk memastikan tidak ada anak yang tak terlihat.

    Kedua, forum peduli anak di tingkat RW

    RT, Posyandu, KSH, dan perwakilan sekolah duduk bersama secara berkala. Mereka membaca tanda-tanda awal. Mereka menyambungkan informasi yang selama ini tercecer.

    Ketiga, sistem rujukan cepat dan terintegrasi

    Jika ditemukan risiko tinggi, jalur menuju layanan psikologis, bantuan sosial, atau perlindungan hukum harus jelas dan responsif. Tidak berbelit. Tidak lambat.

    Keempat, penguatan budaya peduli

    Inilah fondasi terdalam. Tanpa budaya saling menjaga, sistem hanya menjadi administrasi. Anak bukan hanya milik orang tuanya.

    Anak adalah amanah sosial

    Jika ada anak tak mampu membeli buku, RT harus tahu sebelum ia merasa menjadi beban. Jika ada anak murung dan menarik diri, tetangga harus peka sebelum ia merasa sendirian. Jika ada tanda kekerasan, komunitas harus berani melindungi sebelum trauma mengeras.

    Dari Predikat ke Praktik

    Kita sering membanggakan diri sebagai kota layak anak. Tetapi predikat tidak otomatis menjadi perlindungan. Ia harus diterjemahkan ke praktik paling konkret—di ruang 3×4 meter tempat anak tidur, di gang sempit tempat anak bermain, di forum kecil tempat warga bermusyawarah.

    Bangkingan adalah alarm keras

    Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadarkan. Ukuran kemajuan kota bukan hanya pada tinggi gedungnya, tetapi pada seberapa aman seorang anak berjalan pulang tanpa rasa takut. Pada seberapa ringan seorang anak meminta buku tanpa merasa bersalah. Pada seberapa cepat lingkungan merangkul sebelum luka menjadi dalam.

    Amanah yang Tak Boleh Gugur

    Dalam nilai moral dan keagamaan kita, anak adalah titipan. Amanah. Kelak bukan hanya negara yang dimintai pertanggungjawaban—kita semua pun akan ditanya oleh nurani kita sendiri.

    Jika satu anak saja merasa sendirian di tengah kota sebesar Surabaya, maka sesungguhnya ada yang retak dalam ekosistem sosial kita.

    Kita tidak boleh lagi menunggu viral. Kita tidak boleh lagi menunggu jeritan berikutnya.

    SPARTA harus hadir di setiap RT

    Bukan karena ini proyek kebijakan, tetapi karena ini panggilan kemanusiaan.

    Bangkingan telah menjadi cermin

    Kini pertanyaannya sederhana namun mengguncang: Apakah kita berani melihat wajah kita sendiri di dalamnya—dan berubah? Karena kota yang beradab bukan yang paling modern. Melainkan yang paling menjaga yang paling lemah. Dan anak-anak adalah yang paling harus kita jaga.

    Surabaya, 17 Februari 2026

    M. Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi, Pengurus Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim, Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua ICMI Jatim

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru