Surabaya 21 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir 2025 lalu masih menyisakan luka dan kehilangan yang mendalam bagi korban terdampak bencana di Aceh. Trauma akan banjir dan tanah longsor membuat mereka terjaga dan tetap waspada hingga hari ini.
Hal itu lah yang dialami Ramiati, salah seorang korban terdampak yang rumahnya tenggelam dan penuh dengan lumpur saat kejadian 3 bulan lalu. Ia dan keluarganya mengungsi dan kehilangan mata pencahariannya. Ia dan keponakannya yang masih umur lima tahun mengaku mengalami trauma yang mendalam. Trauma akan hujan yang turun terus menerus hingga gejala jantung yang berdebar.
Pengalaman trauma yang dialami Ramiati dan keluarganya juga dirasakan oelh seluruh korban terdampak di Aceh. Oleh karena itu, UNAIR hadir memberikan pendampingan psikososial untuk memulihkan trauma para korban. Dengan pendekatan penuh empati, UNAIR berupaya menguatkan kembali semangat warga agar mampu bangkit dan melangkah untuk pulih.
Gejala Trauma
Dosen Vokasi UNAIR, Edith Frederika Puruhito SKM MSc memberikan pendampingan traumatik pasca bencana. Ia menjelaskan bahwa trauma yang dialami korban adalah reaksi yang normal terjadi dan selalu terbayang-bayang. Namun tidak sedikit juga yang tidak menyadari bahwa dirinya merasakan trauma tersebut. Namun efeknya secara fisik dan psikis tetap ada.
“Trauma terjadi pada siapa saja baik anak-anak, ibu hamil, lansia, disabilitas, dan korban kehilangan keluarga,” tuturnya pada Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, perlu ada pemahaman terhadap gejala gejala trauma baik psikis, emosional, maupun fisik. Pertama ada gejala seperti luka yang tidak terlihat seperti, perasaan waspada atau mudah kaget (hypervigilance), ingatan yang tiba-tiba muncul (flashback), perasaan hampa atau sulit merasakan emosi positif (numbness), dan kelelahan ekstrim.
“Sudah 3 bulan yang lalu, saya yakin ingatan itu muncul terus dan membuat lelah. Itu adalah bentuk dari gejala trauma luka tidak terlihat,” ucapnya.
Kemudian, dari luka yang yang tidak terlihat akan muncul gejala – gejala fisik seperti sulit tidur (insomnia) dan gangguan pencernaan. “Secara fisik itu bisa menggerogoti seluruh tubuh, jantung berdebar, sakit kepala, keringat berlebih, hingga muncul rasa nyeri,” paparnya.
Bangkit Pasca Bencana
Ia berharap trauma yang dialami warga tidak sampai pada tahap Post-Traumatic Disorder PTSD). Perlu adanya motivasi diri sendiri untuk bangkit. Motivasi pasca-trauma, lanjutnya, tidak datang dari dorongan besar yang tiba-tiba, melainkan dari hal-hal kecil.
“Kita perlu melakukan self awareness yakni melakukan validasi perasaan, fokus pada perbaikan kecil setiap hari, dan menemukan makna baru tentang hidup setelah melawati krisis,” imbaunya.
Kemudian, perlu adanya motivasi dalam tindakan. Hal itu dimulai dari langkah kecil, mengubah mindset memberdayakan diri, fokus pada diri sendiri, tidak mudah putus asa, dan menerima kondisi ‘baru’. “Kita harus menerima dan kenyataan baru dan membangun sesuatu yang baik dari situasi tersebut.”
Dalam memberikan motivasi, Edith sebagai salah seorang dosen Pengobat Tradisional UNAIR juga memberikan panduan akupresur. Teknik ini mirip dengan akupunktur namun tidak menggunakan jarum dan memiliki banyak manfaat kesehatan.
Program pendampingan psikososial ini sejalan dengan komitmen UNAIR dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (naf)
