Surabaya 23 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Muhammad Fi Salsabily Haudlillah Mufarrihin percaya bahwa desain yang baik bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagaimana sebuah karya mampu menjadi solusi atas masalah nyata di masyarakat. Prinsip tersebut ia pegang teguh selama menempuh studi di Program Studi D-4 Desain Grafis, Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Dedikasinya terhadap esensi desain, ditambah tekadnya dalam belajar pada akhirnya mengantarkan pemuda yang akrab disapa Fisal tersebut meraih predikat wisudawan terbaik periode 118 Unesa dengan IPK 3,95.
Ketertarikan Fisal pada dunia visual sebenarnya sudah berakar sejak ia duduk di bangku kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Berawal dari rasa penasaran melihat cara kerja perangkat lunak pengolah gambar, ia mulai bereksperimen secara mandiri menggunakan program sederhana.
Ketekunan itu terus ia asah melalui pendidikan formal pada jurusan multimedia saat SMK, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendalami industri kreatif secara profesional di Unesa. “Sejak awal saya ingin memperdalam industri kreatif secara legal, teknis, dan profesional,” ungkapnya.
Momentum pertumbuhan terbesarnya muncul saat ia menjalani program magang MSIB di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya.
Saat ditempatkan di UPT Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan), ia mendapat tantangan: eksistensi layanan kesehatan hewan milik pemerintah brandingnya masih kurang ketimbang klinik swasta, karena belum memiliki identitas visual yang kuat.
Kondisi inilah yang kemudian ia angkat sebagai tugas akhir. Mahasiswa kelahiran Kabupaten Gresik ini tidak hanya merancang logo, tetapi menyusun Brand Guidelines lengkap yang mencakup filosofi desain, palet warna, hingga aturan penerapan pada berbagai media publik.
Prosesnya pun cukup kompleks, melibatkan riset lapangan dan asistensi berulang kali ke tingkat struktural DKPP guna memastikan desain yang dibuat sesuai dengan karakter lembaga pemerintahan. Kini, identitas visual tersebut telah diterapkan secara nyata dan membantu meningkatkan kepercayaan warga untuk berkunjung ke Puskeswan.
“Eksistensi Puskeswan sebelumnya masih kurang dibanding klinik swasta karena tidak punya identitas visual yang kuat. Sekarang masyarakat lebih mengenal Puskeswan. Identitas visual yang konsisten membuat mereka lebih percaya untuk datang,” tuturnya.
Kendati menjalani masa studi yang padat dan lulus dalam waktu hanya 3,5 tahun, ia tetap mampu menjaga kualitas akademiknya. Ia mengaku tidak menemui kendala selain manajemen waktu yang ketat, karena harus menyelesaikan tugas akhir beriringan dengan mata kuliah reguler lainnya.
Di luar kelas, ia juga aktif menjuarai berbagai kompetisi seperti Election Hackathon UNESCO–EU hingga terlibat dalam pameran internasional. Baginya, segala pencapaian tersebut merupakan bentuk pengabdian dan rasa terima kasih kepada orang tua.
“Motivasi terbesarku adalah tentunya membanggakan orang tua dan menjadikan ilmu desain sebagai jariyah yang bermanfaat. Karena bagiku, ilmu sedikit namun diamalkan itu jauh lebih baik daripada ilmu banyak namun tidak diamalkan,” pesannya.
Setelah resmi menyandang gelar sarjana terapan, Fisal berencana melanjutkan studi sembari berkarier di industri kreatif. Ia juga terus mengembangkan proyek-proyek lepasnya dengan cita-cita besar untuk mendirikan studio desain mandiri.(her)
