Surabaya 9 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Penanganan stunting memerlukan pendekatan yang komprehensif, mulai dari edukasi gizi hingga inovasi pangan yang mudah masyarakat terapkan. Pesan itu menjadi penutup rangkaian pengabdian kepada masyarakat Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Sarasehan bertajuk Membangun Generasi Unggul Dimulai dari Keluarga dengan Konsumsi Protein Asal Hewani untuk Mencegah Stunting di Pendopo Malowopati, Selasa (7/7/2026).
Prof Dr Ir Annis Catur Adi MSi, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR hadir sebagai salah satu pembicara. Kegiatan tersebut menjadi wujud kolaborasi lintas fakultas dalam memperkuat edukasi gizi berbasis protein hewani sebagai langkah strategis mencegah stunting.
Protein Hewani Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak
Dalam pemaparannya, Prof. Annis menjelaskan bahwa konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia, khususnya pada balita, masih perlu mendapat perhatian. Menurutnya, tantangan yang ada bukan hanya ketersediaan pangan bergizi, tetapi juga bagaimana menghadirkan makanan yang menarik, terjangkau, dan sesuai dengan selera anak.
“Konsumsi protein hewani di Indonesia masih kurang. Tantangannya adalah bagaimana memasukkan unsur protein hewani ke dalam makanan anak-anak balita dengan cara yang mereka sukai. Anak memiliki selera makan, sehingga kita perlu menghadirkan makanan yang menarik sekaligus bergizi,” tuturnya.
Lebih lanjut, dosen FKM UNAIR tersebut menjelaskan bahwa protein hewani tetap dapat tubuh cerna secara optimal meskipun telah menjadi tepung atau pasta. Bentuk olahan itu dapat dicampurkan ke berbagai makanan yang disukai anak sehingga menjadi solusi bagi balita yang mengalami kesulitan makan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa konsumsi protein tetap harus menyesuaikan kebutuhan. “Protein memang sangat baik, tetapi jika kita konsumsi secara berlebihan dapat mengganggu fungsi ginjal. Karena itu, pemenuhan gizi harus tetap seimbang,” tegasnya.
Le Mori, Inovasi Pangan Lokal untuk Dukung Pencegahan Stunting
Sebagai bagian dari edukasi, Prof Annis turut memperkenalkan Le Mori. Produk biskuit berbahan tepung ikan lele dan tepung daun kelor yang ia kembangkan sebagai alternatif camilan tinggi protein dan kaya zat gizi. Produk tersebut menjadi contoh pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi pangan olahan dengan banyak manfaat. Le Mori memiliki nilai tambah, praktis sebelum konsumsi, serta lebih mudah untuk anak-anak terima. Menurutnya, inovasi seperti Le Mori menjadi salah satu jawaban atas tantangan menghadirkan makanan yang murah, lezat, sekaligus bergizi bagi keluarga.
“Kita masih sering menjumpai makanan yang murah dan enak, tetapi belum tentu sehat. Le Mori menunjukkan bahwa bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang berkualitas, kaya protein, dan disukai anak. Dengan cara ini, kebutuhan protein hewani dapat dipenuhi tanpa mengabaikan cita rasa,” jelasnya.
Sarasehan tersebut sekaligus menutup rangkaian pengabdian masyarakat FKH UNAIR di Kabupaten Bojonegoro yang selama dua hari menghadirkan berbagai kegiatan edukatif, mulai dari penyuluhan gizi, skrining status kesehatan dan gizi, hingga kampanye konsumsi protein hewani. Kehadiran narasumber dari FKM UNAIR melengkapi kolaborasi multidisiplin yang sebelumnya juga melibatkan Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR sebagai bentuk sinergi keilmuan dalam menjawab persoalan stunting.
Melalui kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, FKH UNAIR berharap berbagai inovasi dan edukasi yang telah hadir, termasuk pengenalan Le Mori sebagai pangan bergizi berbasis bahan lokal, dapat menjadi solusi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas gizi keluarga dan mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bebas stunting.(rin)
