Jember, 21 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Ketimpangan antarwilayah di kawasan Tapal Kuda tercatat rendah — tapi angka itu menyimpan cerita yang justru patut diwaspadai. Opini berbasis data — BPS Provinsi Jawa Timur 2025 · Indeks Williamson & Tipologi Klassen · 7 Kabupaten/Kota Kawasan Tapal Kuda
coba bayangkan tujuh daerah dengan tujuh bupati atau wali kota, tujuh DPRD, dan tujuh prioritas anggaran yang berbeda-beda, tapi harus tumbuh dalam satu kawasan yang sama. Itulah wajah Tapal Kuda di ujung timur Jawa Timur: Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Banyuwangi, dan Kota Probolinggo. Tujuh pemerintahan otonom, satu nasib geografis. Di titik pertemuan itulah Bakorwil V Jember mengambil peran sebagai perekat, penyambung program pusat dan provinsi agar tidak berhenti di batas kabupaten. Tujuh Daerah, Satu Nasib Geografis Julukan “Tapal Kuda” bukan sekadar nama. Kawasan ini membentang dari kaki Gunung Semeru sampai ke Selat Bali, menyatukan pegunungan, pesisir, dan pelabuhan penyeberangan dalam satu wilayah kerja. Tapi di balik keindahan geografisnya, ada kesenjangan yang nyata.
Rata-rata Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kawasan ini masih di angka 73,21, tertinggal dari rata-rata Jawa Timur yang sudah 76,13. Hanya Banyuwangi dan Kota Probolinggo yang berhasil melampaui rata-rata provinsi. Ketertinggalan ini pun tidak seragam. Banyuwangi sudah mulai “lepas landas” berkat wisata Ijen, kopi dan kakao bernilai tambah, serta Pelabuhan Ketapang yang menyambungkan Jawa dan Bali. Sementara itu, Kabupaten Probolinggo masih terjebak dalam kemiskinan tertinggi ketiga se-Jawa Timur, meski kawasan wisata kelas dunia seperti Bromo justru berada di wilayahnya sendiri.
Kemiskinan tertinggi dan potensi wisata terbesar bisa berdampingan dalam satu kabupaten yang sama — sebuah ironi yang layak jadi alarm.
Kesetaraan yang Semu
Angka yang menarik untuk dibaca lebih dalam adalah Indeks Williamson kawasan ini, yaitu ukuran ketimpangan antarwilayah, yang tercatat rendah: 0,238. Bandingkan dengan Bakorwil I Madiun yang ketimpangannya mencapai 1,773. Sekilas ini kabar baik. Tapi rendahnya ketimpangan di Tapal Kuda sebenarnya bukan karena semua wilayah sudah maju bersama, melainkan karena hampir semua wilayah sama-sama masih berjuang mengejar produktivitas. Maka tantangan kawasan ini bukan sekadar memindahkan kue pembangunan dari daerah kaya ke daerah miskin, karena memang belum ada daerah yang benar-benar kaya di sini. Tantangan sesungguhnya adalah menaikkan produktivitas semua wilayah secara bersamaan, sambil memastikan pertumbuhan itu benar-benar sampai ke warga, bukan hanya dinikmati operator besar dari luar daerah.
SOROTAN UTAMA KAWASAN Indeks Williamson Bakorwil V Jember tercatat rendah (0,238) — namun ini bukan tanda kemakmuran merata, melainkan tanda bahwa hampir seluruh tujuh wilayah sama-sama tertinggal dalam produktivitas, tanpa satu episentrum pertumbuhan yang dominan. Data: BPS Jawa Timur 2025 · IPM rata-rata kawasan 73,21 vs Jatim 76,13 · Kemiskinan tertinggi: Kab. Probolinggo 16,31% · PDRB per kapita: Rp35,9 juta (Bondowoso) – Rp67,1 juta (Banyuwangi)
Produktivitas: Pekerjaan Rumah Bersama
Di titik inilah peran Bakorwil V menjadi krusial. Sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat dan provinsi, Bakorwil mengawal sejumlah program strategis nasional agar berjalan merata di tujuh wilayah, bukan hanya terpusat di kabupaten yang lebih siap secara birokrasi. Koperasi Desa Merah Putih diarahkan menjadi pemasok bahan pangan segar bagi dapur Makan Bergizi Gratis sekaligus kanal pembiayaan mikro bagi UMKM desa. Sekolah Rakyat di Jember sudah hampir rampung dibangun, tapi pekerjaan rumah Bakorwil adalah memastikan akses pendidikan berasrama gratis ini juga menjangkau kantong kemiskinan terdalam di Probolinggo dan Bondowoso. Ada juga proyek jalan tol Probolinggo–Banyuwangi yang akan mengubah wajah konektivitas kawasan, serta status Bromo-Tengger-Semeru sebagai kawasan wisata strategis nasional yang kini kian dilirik wisatawan mancanegara dan investor asing. Semua ini peluang besar. Tapi peluang besar tanpa pengawalan yang tepat bisa saja hanya dinikmati segelintir pihak, sementara warga di sekitarnya tetap jadi penonton. Modal sosial kawasan ini pun sebenarnya besar: keragaman budaya Jawa, Madura, Osing, dan Pandalungan, dengan basis pesantren yang kuat terutama di Jember dan Bondowoso, sudah mulai dilibatkan lewat dapur MBG berbasis pesantren di beberapa titik
Tiga Langkah agar Perekat Ini Benar-Benar Merekat Tapal Kuda memang belum menyatu sepenuhnya, tapi kawasan ini punya modal cukup untuk tumbuh bersama, asal ada yang benar-benar merekatkannya. Setidaknya ada tiga langkah yang bisa ditempuh Bakorwil V:
1 Banyuwangi sebagai Model Belajar Menjadikan Banyuwangi model dan simpul pembelajaran kebijakan diversifikasi ekonomi bagi enam wilayah tetangganya, bukan sekadar dipamerkan sebagai daerah bintang.
2 Rantai Nilai Hilirisasi Kawasan 2Membangun rantai nilai hilirisasi komoditas unggulan seperti kopi, kakao, dan hasil laut yang melibatkan seluruh tujuh wilayah, bukan hanya daerah penghasil bahan mentah.
3 Kemitraan Mengikat di Sektor Wisata Mengawal lewat skema kemitraan yang mengikat agar sektor wisata premium seperti Bromo dan Ijen memberi manfaat langsung bagi warga sekitar, khususnya di Kabupaten Probolinggo dan Bondowoso.
Tapal Kuda belum menyatu sepenuhnya. Tapi kawasan yang luas dan beragam ini punya modal cukup untuk tumbuh bersama — asal ada yang benar-benar merekatkannya.
Oleh: Budi Raharjo — Kepala Bakorwil V Jember, Mahasiswa S3 PSDM Universitas Airlangga, dan Mantan Staf Ahli Gubernur Bidang Kesmas dan SDM
