BerandaTeknologiDoktor ITS Rumuskan Kebijakan Percepat Adopsi Motor Listrik

Doktor ITS Rumuskan Kebijakan Percepat Adopsi Motor Listrik

Penulis

Tanggal

Kategori

Surabaya, 7 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Adopsi sepeda motor listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan meski memiliki potensi pasar yang besar. Melihat persoalan tersebut, lulusan program doktor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Fiky Two Nando ST MT merumuskan model kebijakan komersialisasi sepeda motor listrik melalui disertasinya untuk mempercepat peralihan kendaraan berbahan bakar fosil.

Lelaki asal Pekanbaru ini menjelaskan bahwa komersialisasi motor listrik turut dipengaruhi berbagai faktor di luar kesiapan teknologi. Di antaranya adalah kepercayaan konsumen, harga awal, nilai jual kembali, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, fasilitas pengisian daya, hingga kepastian kebijakan turut serta menjadi pertimbangan dalam penerimaan pasar. “Produk yang secara teknis baik belum tentu langsung diterima pasar,” ungkap doktor yang akrab disapa Fiky ini.

Ia menjelaskan, penelitiannya tidak hanya menunjukkan faktor apa yang penting, tetapi juga membaginya menjadi faktor pendorong (push) dan penarik (pull) guna memperkirakan dampak kebijakan terhadap peralihan konsumen. Faktor pendorong berasal dari luar, misalnya regulasi, sedangkan faktor penarik membuat konsumen tertarik seperti garansi dan kesiapan teknologi. “Faktor push dan pull itulah yang menjadi novelty atau keterbaruan pada penelitian ini,” bebernya.

Untuk memetakan faktor tersebut, Fiky melakukan studi literatur sistematis yang dilanjutkan dengan penilaian dari 12 pakar akademisi, peneliti, industri, hingga regulator pemerintah. Dari 41 faktor yang dianalisis menggunakan metode Fuzzy Delphi, sebanyak 26 faktor memenuhi ambang konsensus. “Metode ini membantu mengurangi subjektivitas penilaian individu dan menghasilkan tingkat kesepakatan yang lebih terukur,” jelas lelaki kelahiran 12 November 1991 itu.

Dari 26 faktor tersebut, ketersediaan daya listrik yang memadai dan garansi produk menjadi faktor dengan nilai kepentingan tertinggi. Faktor berikutnya meliputi biaya operasional, keamanan produk, kemudahan pengisian baterai, kemampuan menurunkan emisi, ketersediaan komponen, serta layanan purnajual. Sementara itu, kecepatan maksimum dan variasi produk tidak memenuhi kesepakatan para pakar.

Selanjutnya, Fiky menggunakan sistem dinamik untuk melihat perkembangan populasi sepeda motor listrik melalui sejumlah skenario kebijakan. Pada kondisi awal, simulasi menggunakan harga BBM Rp10 ribu per liter, garansi lima tahun, tanpa insentif pajak tahunan, serta penambahan sekitar 60 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan populasi yang belum cukup cepat untuk mencapai target pemerintah.

Dalam simulasi berikutnya, target pemerintah sebesar dua juta unit dapat dicapai sekitar 2035 ketika masa garansi dinaikkan menjadi 10 tahun. Fiky menjelaskan bahwa garansi berkaitan dengan risiko kepemilikan, mulai dari ketahanan baterai hingga biaya penggantian komponen. “Garansi yang panjang memberikan instrumen pembangun kepercayaan pasar,” paparnya. 

Berdasarkan hasil simulasi tersebut, Fiky merumuskan lima langkah kebijakan untuk mempercepat komersialisasi motor listrik. Rekomendasinya mencakup perpanjangan garansi menjadi 10 tahun, penyesuaian harga subsidi BBM menjadi harga reguler, pembebasan pajak tahunan, pemberian insentif PPN, serta penambahan SPKLU secara masif dan merata. “Rekomendasi kebijakan tersebut perlu dijalankan secara kolaboratif,” ujarnya.  

Menurut Fiky, pemerintah berperan melalui kepastian regulasi, standardisasi, perlindungan konsumen, serta pengembangan infrastruktur, sedangkan industri perlu memperkuat kualitas produk, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, dan skema garansi. Penelitian ini juga telah menghasilkan publikasi Scopus Q1 di Automotive Experience 2025 serta publikasi pada konferensi internasional terindeks Scopus, ICIMECE, dan ICENIS.    Ke depan, Fiky berharap pengembangan penelitian dapat diarahkan pada penguatan model dengan mempertimbangkan sebaran SPKLU, kapasitas jaringan listrik daerah, kebijakan fiskal, serta perilaku konsumen. Disertasi ini dibimbing oleh Dr Ir I Ketut Gunarta MT sebagai promotor dan Putu Dana Karningsih ST MEngSc PhD sebagai co-promotor. Penelitian tersebut turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (naf)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Artikel Terbaru