Surabaya 4 Maret 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Universitas Airlangga (UNAIR) senantiasa lahirkan alumni-alumni berdampak ke seluruh penjuru negeri, tak terkecuali di Kabupaten Gresik. Ia adalah Nur Chakim SKep Ners, nama yang tak asing di telinga para tenaga kesehatan. Lulusan Fakultas Vokasi (FV) ini menjelma jadi jadi motor penggerak perubahan di berbagai organisasi strategis.
Kini, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Gresik, Sekretaris 3 Lembaga Kesehatan PCNU Kabupaten Gresik, dan Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Gresik. Perjalanannya hingga saat ini, menjadi bukti nyata bagaimana nilai-nilai yang ditanamkan di bangku kuliah menjadi manfaat bagi sekitar.
Menurutnya, alumni yang berdampak adalah mereka yang mampu menebarkan manfaat bagi sesama. “Definisi berdampak menurut saya secara pribadi, yang penting kita bisa memberikan manfaat kepada orang yang ada di sekitar kita, dan bisa memberikan manfaat kepada semua orang. Manfaat itu memang benar-benar dalam hal sisi positif dan bisa dikembangkan dengan baik oleh masyarakat sekitar,” jelasnya.
Dedikasi Kuat
Ia menekankan bahwa fokus utama organisasi profesi bukanlah apa yang bisa diberikan organisasi kepada dirinya melainkan sebaliknya. “Walaupun kita organisasi profesi, tetapi dampaknya juga bisa untuk kebutuhan masyarakat. Misalnya dalam hal-hal kegiatan pengabdian masyarakat, kemudian dalam hal apapun itu, kebencanaan dan lain sebagainya,” ujarnya.
Salah satu yang paling menarik perhatian dan kepedulian Nur Chakim adalah penanggulangan HIV-AIDS di Gresik. Dedikasinya yang begitu kuat tercermin dari keterlibatannya di KPA. baginya, tantangan terbesar bukan hanya virusnya, melainkan stigma yang menyertainya.
“Trigger kita sehingga sampai saat ini fokus di KPA, yaitu terkait dengan stigma terhadap orang dengan HIV. Di masyarakat, ketika orang terdiagnosis HIV, yang muncul pertama kali adalah pengucilan atau persepsi negatif. Padahal, ketika kita mempelajari bagaimana penularan, penanganan, dan terapinya, sebenarnya HIV itu tidak seburuk stigma yang disampaikan oleh masyarakat,” ujarnya.
Perlebar Sayap
Sejalan dengan target Kabupaten Gresik untuk mencapai zero new infection pada 2030, ia dan jajaran di KPA terus bergerak dengan strategi kolaboratif. Ia menegaskan pentingnya peran semua pihak. “Upaya edukasi ke masyarakat dan promosi preventif terus kami lakukan. Kami terus mengawal bagaimana pasien itu mau minum obat, bisa mengendalikan kondisi penyakitnya, dan bisa terus survive,” paparnya.
Tak hanya ranah profesi umum, peran Nur Chakim juga meluas sebagai Sekretaris 3 Lembaga Kesehatan PCNU (LKNU) Kabupaten Gresik. Di sini, ia menjembatani nilai-nilai keagamaan dengan program kesehatan yang relevan.
“Peran kami di LKNU memang lebih banyak memberikan kebermanfaatan terkait kebutuhan kesehatan masyarakat, khususnya warga Nahdliyin. Di PC ini, kami berkoordinasi dengan LKNU di tingkat MWC kecamatan. Ini menjadi gayung sambut ketika melakukan kegiatan, sehingga dampak program untuk kebutuhan kesehatan masyarakat bisa terpenuhi dengan baik,” sebutnya. (naf)
