Surabaya 11 Desember 2024 | Draft Rakyat Newsroom – Meski tingkat kesetaraan gender di Korea Selatan sudah cukup baik, namun budaya patriarki saat ini juga masih menjadi titik permasalahan yang dianggap sebagai isu yang perlu dibahas. Tak hanya di Korea, pembahasan terkait budaya patriarki yang meniti beratkan pada nilai feminisme ini juga terjadi di Indonesia. hal inilah yang melatarbelakangi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) mengadakan kegiatan nonton bareng (Nobar) film Korea berjudul ‘Pilot’ dan gelar wicara bertajuk Korean CineCon ‘Behind The Laughter: A Feminism Take in Pilot (2024), di bioskop CGV Maspion Square, Surabaya.
Pembicara yang berasal dari Korea Selatan, Hwang Woo Young menjelaskan, saat dikonfirmasi, Rabu (11/12/2024) mengatakan, budaya patriarki sudah dimulai sejak ajaran konfusianisme di Korea ada. Ia menyoroti bahwa ajaran dalam konfusianisme yang berisi tentang siapa yang berhak melanjutkan keturunan nama keluarga atau Marga adalah laki-laki sehingga perempuan itu bukan golongan yang teratas, tapi yang dianggap lebih rendah dibanding laki-laki.
“Tapi kalau sekarang, sudah banyak menurut saya perempuan yang kedudukannya setara dengan laki-laki, karena tadi juga dikatakan bahwa kalau di Korea, orang sudah banyak yang tidak mau menikah karena tantangan hidupnya sangat sulit,” jelas Hwang.
Untuk saat ini, menurut Hwang, budaya patriarki sudah tidak lagi menjadi masalah artinya kesetaraan gender sudah mulai berkembang. Karena diungkapkannya, di Korea angka kelahiran mencapai 0,7%, maka tidak masalah ketika menikah yang lahir baik bayi perempuan maupun laki-laki, gender sangat dihargai.
“Jadi sekarang tidak, tapi di dalam keluarga tertentu, saya rasa misalnya keluarga besar, ada khususnya anak laki-lakinya, anak sulung yang pertama, kemudian adik-adiknya perempuan itu, adik-adik itu, mereka harus kerja demi untuk sekolah saudaranya, atau mungkin anak pertama yang adalah perempuan, tapi kalau di keluarga ada anak laki satu itu, dia membiayai sekolah. Tapi itu bukan karena laki-laki tinggi atau perempuannya rendah, namun masih ada anggapan bahwa laki-laki itu adalah tulang punggungnya keluarga. Masih pandangan seperti itu,” terang Hwang.
Lagi pula kalau zaman sekarang, Hwang memaparkan, di Korea jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada laki-laki. Bahkan, dikatakan Hwang, justru sekarang ada suatu fenomena bahwa laki-laki umur 20 an tahun itu iri terhadap perempuan, karena mereka merasa didiskriminasi terhadap mereka.
“Karena kalau di Korea itu kan laki-laki harus wajib militer, sementara selama dua tahun lebih mereka wajib militer, perempuan kan ada kesempatan dan sebagainya. Laki-laki merasa kesempatan mereka dapat pekerjaan itu malah berkurang, karena perempuan itu dapat posisi yang lebih bagus. Jadi sebenarnya kalau di Korea itu masyarakatnya sangat dinamis, sehingga per generasi, per umur, masyarakat atau kehidupan yang mereka hadapi itu sangat-sangat berbeda,” papar Hwang.
Terkait film ‘Pilot’ ini, sebagai warga Korea di Indonesia, Hwang mengatakan, budaya patriarki dimanapun memang ada, namun hal tersebut tergantung setiap warga negara dalam menyikapinya. Ia berpesan, baik kepada laki-laki maupun perempuan di Korea atau Indonesia harus tetap percaya diri dengan kemampuannya dalam mengembangkan potensi karir masing-masing.
“Kebetulan dalam film ini yang dibahas adalah pekerjaan pilot. Di luar itu masih ada banyak pekerjaan berat yang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki. Sebetulnya kalau jumlah pekerjaan pilot di Korea sendiri, pilot perempuan itu hanya sekitar 2 atau 3% saja sangat sedikit. Jadi tergantung bidang, pekerjaannya. Kalau pekerjaannya berat kebanyakan memang lebih cocok laki-laki, kalau perempuan lebih banyak ke pekerjaan layanan, dibanding laki-laki. Jadi tetap semangat kepada perempuan di luar sana, untuk tetap terus bekerja dan laki-laki jangan merasa tersaingi,” pesan Hwang.
Melalui film ini, sebagai warga negara Korea, Hwang berharap banyak orang Indonesia yang tidak berpikir buruk terhadap budaya patriarki di Korea. Meski di Indonesia budaya patriarki juga ada, namun saat ini kesetaraan gender di antara kedua negara juga semakin berkembang tergantung zaman yang sedang berjalan. (vin)
