Surabaya 10 Nopember 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Alumni Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Aranindy, kembali menorehkan prestasi membanggakan di dunia literasi. Penulis fiksi urban-romance yang dikenal luas melalui karya-karya bernuansa emosional ini menjadi salah satu penulis Indonesia yang diundang tampil di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025, ajang sastra bergengsi tingkat Asia Tenggara.
Di awal karier kepenulisannya, ia dikenal dengan nama pena Orihara Ran pada periode 2005–2017. Namun, sejak aktif menulis di Wattpad pada 2015, ia mulai melakukan rebranding dengan menggunakan nama pena Aranindy yang terus ia gunakan hingga kini.
Aranindy telah menulis lebih dari lima belas novel dan dikenal melalui Broadcasting Series, saga populer berlatar dunia media televisi. Kini, ia hadir di UWRF melalui peluncuran bukunya yang terbaru bertajuk Chirping Town, bagian dari The Capital Series yang melanjutkan kesuksesan novel pertamanya Paracosm D’Arte.
Dari Wattpad ke Festival Sastra Internasional
Dalam wawancara, Aranindy mengaku tak menyangka dapat tampil di panggung UWRF. Ia bercerita bahwa undangan tersebut datang setelah penerbitnya, Gramedia, secara iseng mengirimkan naskahnya untuk kurasi festival.
“Saya sempat kaget, karena karya saya bergenre romance dan metropop, bukan sastra berat seperti kebanyakan karya di UWRF. Tapi ternyata karya saya lolos kurasi dan diberi kesempatan untuk book launch di sana,” ungkapnya.
Bagi Aranindy, kesempatan itu merupakan tonggak penting dalam perjalanan menulisnya. “UWRF menjadi langkah besar bagi saya untuk lebih dikenal, sekaligus membuktikan bahwa sastra populer juga punya ruang di kancah internasional,” ujarnya.
Bertukar Perspektif dengan Penulis Dunia
Selama mengikuti festival, Aranindy bertemu dengan para penulis dari berbagai negara seperti Kanada, Jepang, dan Malaysia. Ia menilai forum tersebut memperkaya wawasan dan memperluas pandangan tentang dinamika sastra global.
“Setiap penulis punya riset dan sudut pandang yang unik. Saya banyak belajar dari mereka tentang karya sastra bisa menjadi alat refleksi sosial, bahkan untuk isu-isu besar seperti iklim, gender, dan kemanusiaan,” jelasnya.
Pengalaman itu, lanjutnya, mengubah cara pandangnya terhadap sastra. “Dulu saya menulis apa yang saya suka. Tapi setelah UWRF, saya lebih sadar bahwa menulis juga bisa menjadi medium untuk berpikir kritis dan berkontribusi terhadap perubahan sosial,” tambahnya.
Menjaga Identitas dan Nilai dari Kampus
Sebagai lulusan Sastra Inggris FIB UNAIR, Aranindy mengaku pengalaman kuliahnya berperan besar dalam kemampuannya beradaptasi di forum internasional. “Didikan para dosen di FIB banyak membantu saya berkomunikasi dan memahami budaya lintas negara. Itu bekal berharga di UWRF,” tuturnya. Ia juga berpesan kepada mahasiswa dan komunitas literasi UNAIR untuk terus menulis dan berani berkarya. “Jangan pernah berhenti menulis, meskipun ditolak penerbit. Menulis adalah kerja utama seorang penulis. Dari sana, karya akan menemukan jalannya sendiri,” pungkasnya. (naf)
