Surabaya 21 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Tepat hampir tiga bulan bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir melanda Sumatra. Bencana ini tidak hanya menimbulkan kerusakan dan kerugian melainkan juga korban jiwa. Sebagai institusi perguruan tinggi, Universitas Airlangga (UNAIR) hadir di tengah-tengah masyarakat mempercepat pemulihan sosial ekonomi masyarakat terdampak bencana di wilayah Aceh khususnya pelaku usaha mikro dari keluarga miskin. Hal itu sejalan dengan karakteristik UNAIR yakni entrepreneurial university.
Dalam hal ini, UNAIR menerjunkan 6 dosen ahli untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat terdampak mulai Sabtu (21/2/2026) hingga Minggu (22/2/2026) yang berlokasi di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Hal itu bertujuan untuk mendukung upaya pemulihan pasca-bencana khususnya pelaku usaha mikro dan kelompok rentan.
Pemulihan Sosial – Ekonomi Pasca Bencana
Ketua tim pengabdian masyarakat UNAIR, Prof Dr Bagong Suyanto, MSi menjelaskan program ini merupakan buah dari arahan Rektor UNAIR untuk melakukan pemulihan dan pemberdayaan pendampingan pelaku usaha mikro yang menjadi korban bencana. Pemulihan bencana tidak cukup hanya dengan bantuan darurat, namun juga perlu menciptakan mindset alternatif dalam mengembangkan usaha.
“UNAIR berkomitmen tidak hanya mendampingi, tetapi juga memberikan bantuan modal usaha kepada pelaku usaha mikro. “Nanti, satu pelaku usaha mikro akan dibantu 3 juta rupiah untuk modal usaha mereka,” jelasnya.
Menurutnya, pendampingan ini akan mendorong para pelaku usaha untuk membesar ke samping bukan ke atas. Dalam artian, usaha dan sumber penghasilan tiap keluarga itu bisa lebih dari satu dengan mengembangkan diversifikasi usaha.
Bekerja Sama dengan Alumni dan Organisasi Masyarakat
Ia juga mengatakan bahwa program ini juga akan terus dimonitoring dan dievaluasi sampai para pelaku usaha ini bisa tumbuh kembali. UNAIR menggandeng alumni dan Yayasan Peduli Pembangunan Ekonomi Pesisir Aceh (YAPPERA) dalam melakukan pemantauan secara intensif serta berkolaborasi dengan Universitas Malikussaleh.
“Kemitraan dengan lembaga lokal dan alumni menjadi salah satu kunci keberlanjutan program ini, mengingat jarak yang memisahkan UNAIR dengan Aceh. Hal ini memastikan bahwa pendampingan dan dukungan dapat terus diberikan secara efektif setelah pelatihan ini,” ucapnya.
Selain aspek ekonomi, tim juga memberikan edukasi terkait mitigasi bencana dan penguatan kesehatan masyarakat. Program ini mencakup pelatihan manajemen usaha, penguatan literasi keuangan, hingga bantuan peralatan produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan warga.
“Yang dibutuhkan masyarakat adalah keberlanjutan. Kami hadir untuk memastikan mereka dapat kembali bangkit, memiliki daya tahan ekonomi, dan lebih siap menghadapi risiko di masa depan,” ujarnya.
Melalui upaya ini, UNAIR menegaskan perannya sebagai institusi perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian melainkan hadir berkontribusi melakukan penanganan bencana dan pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah. Selain itu, program ini juga sejalan dengan Sdg 1 (Tanpa Kemiskinan), Sdg 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), Sdg 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), Sdg 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), dan Sdg 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (naf)
