Surabaya 2 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,20 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Januari 2026. Deflasi ini terutama dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan transportasi.
Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Ike Rahayu Sri, menjelaskan bahwa komoditas yang memberikan kontribusi utama terhadap deflasi antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, angkutan udara, telur ayam ras, bensin, dan tomat.
“Pada Januari 2026, Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,20 persen,” ujar Ike Rahayu Sri dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang disampaikan pada Senin, (02/92/2026) siang.
Ia menyebutkan, meningkatnya pasokan sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan tomat, baik dari produksi lokal maupun pasokan antardaerah, mendorong terjadinya penurunan harga pada awal tahun ini.
Sebaliknya, bawang putih justru mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan impor selama Januari 2026.
Selain faktor pasokan, penurunan permintaan juga turut memengaruhi harga beberapa komoditas pangan, khususnya daging ayam ras dan telur ayam ras. Normalisasi permintaan pasca momentum Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menjadi salah satu penyebab turunnya harga kedua komoditas tersebut.
Secara rinci, cabai rawit mengalami deflasi terdalam sebesar 23,2 persen dengan andil 0,11 persen terhadap deflasi keseluruhan. Disusul daging ayam ras yang turun 4,91 persen dengan andil 0,09 persen, serta bawang merah yang mengalami deflasi 17,5 persen dengan andil 0,08 persen.
Sementara itu, cabai merah mencatat deflasi 35,09 persen dengan andil 0,05 persen, dan angkutan udara turun 3,49 persen dengan andil 0,05 persen. Komoditas lain seperti telur ayam ras, bensin, dan tomat masing-masing mengalami deflasi 3,95 persen, 0,55 persen, dan 6,53 persen, dengan total andil sebesar 0,08 persen.
Meski terjadi deflasi bulanan, BPS mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Jawa Timur pada Januari 2026 terhadap Januari 2025 tetap berada di angka 3,29 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,03.
Dari 11 kabupaten/kota yang dipantau, sebanyak 10 daerah mengalami deflasi, sementara Kabupaten Sumenep menjadi satu-satunya wilayah yang mencatat inflasi sebesar 0,34 persen.
Deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Gresik sebesar 0,45 persen, disusul Kediri sebesar 0,37 persen, Bojonegoro sebesar 0,33 persen, dan Jember sebesar 0,29 persen. Daerah lainnya yang turut mengalami deflasi yakni Madiun (0,23 persen), Banyuwangi (0,21 persen), Tulungagung (0,18 persen), Surabaya (0,16 persen), Malang (0,10 persen), dan Probolinggo (0,03 persen) (myo’).
