Surabaya 5 Maret 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menyelenggarakan program “Mengaji Al-Qur’an Bahasa Isyarat” sepanjang Ramadan 2026 sebagai wujud nyata komitmen kampus ramah disabilitas. Kegiatan yang berlangsung setiap Senin dan Kamis di Masjid Baitul Makmur, Kampus Ketintang ini merupakan kolaborasi strategis antara Komunitas Tuli, Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI), dan Pusat Unggulan Iptek (PUI) Disabilitas Unesa.
Kasubdit PUI Disabilitas Unesa, Budiyanto menjelaskan bahwa program ini bertujuan memperkuat literasi keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, mengaji bukan sekadar rutinitas semata, melainkan upaya meningkatkan ketakwaan dan spiritual mahasiswa disabilitas secara setara.
“Bagi kita mungkin mengaji itu sederhana, tetapi bagi teman-teman disabilitas ini adalah bentuk ibadah sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan spiritual. Kami ingin memastikan Ramadan dapat dijalani secara setara dan bermakna,” ujarnya.
Program yang digagas sejak 2024 dan berjalan efektif sejak tahun lalu ini diikuti sekitar 30 pendaftar pada tahun ini. Meskipun mayoritas peserta merupakan mahasiswa tuli Unesa, kelas ini juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin bergabung.
Motor penggerak kegiatan ini adalah Komunitas Tuli Unesa, dengan pengajar yang terdiri dari mahasiswa tingkat akhir yang telah tersertifikasi dalam penguasaan bahasa isyarat Al-Qur’an.
Metode pembelajaran dirancang secara adaptif dengan pendekatan visual dan gestural. Berbeda dengan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) konvensional yang menggunakan metode oral, kelas ini menitikberatkan pada visualisasi gerakan tangan yang merepresentasikan huruf hijaiyah.
Pengajar mengombinasikan standar bahasa isyarat Arab dengan penyesuaian konteks Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) agar lebih mudah dipahami.
Nanda, mahasiswa pendamping dari UKM Peduli Disabilitas Unesa, mengungkapkan bahwa organisasinya berperan memastikan proses belajar berlangsung efektif melalui asistensi personal.
Ia menyebutkan bahwa sejak 2026, UKM Peduli Disabilitas telah resmi berdiri secara mandiri untuk menjalankan fungsi pendampingan dan advokasi di lingkungan kampus.
Sementara itu, Akbar, mahasiswa S-1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) angkatan 2022 sekaligus pendiri Komunitas Tuli Unesa, menceritakan perjuangannya merintis program ini sejak 2024. Ia bahkan belajar secara mandiri agar bisa menjadi instruktur mengaji isyarat yang kompeten.
“Awalnya saya belajar secara mandiri agar bisa menjadi pengajar. Sekarang alhamdulillah sudah berjalan rutin setiap Ramadan,” ungkap Akbar.
Dalam praktiknya, para peserta dipandu melafalkan huruf hijaiyah melalui bahasa isyarat dan diminta maju satu per satu untuk memperagakan hafalan mereka. Melalui inisiatif ini, Unesa berhasil menghadirkan ekosistem ibadah yang aksesibel, membuktikan bahwa praktik keagamaan dapat dijalankan secara adaptif tanpa mengurangi esensi spiritualitas. (her)
