Surabaya 18 April 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Desa Sukorejo yang terletak di Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, berhasil menjadi pelopor pengembangan kebun melon premium dengan konsep edufarm—menggabungkan sektor pertanian, pendidikan, dan pariwisata.
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, berkesempatan mengunjungi kebun melon milik Yayasan Kabel Wahid Indonesia. Ia menyampaikan apresiasi atas inovasi warga dalam mengembangkan pertanian yang tak hanya produktif, tapi juga edukatif, khususnya karena melibatkan anak-anak dalam prosesnya.
“Meski dilakukan secara sederhana, pendekatan ini sangat efektif dalam memberikan pembelajaran kepada anak-anak. Edufarm memberikan ruang bagi mereka untuk belajar langsung dari alam, mulai dari menanam hingga memanen, serta menanamkan semangat produktivitas sejak dini. Selain itu, model ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal,” ujar Cantika dalam keterangan resmi Pemkab Bojonegoro pada Kamis (17/4/2025).
Ia juga menekankan bahwa inisiatif ini bisa disinergikan dengan sektor wisata edukasi, sehingga tidak hanya menarik minat pengunjung dari luar daerah yang ingin membeli hasil panen, tetapi juga mereka yang ingin belajar langsung proses budidaya. Cantika berharap pendekatan ini bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk menggali potensi lokal demi kemandirian ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zainal Fanani, menjelaskan bahwa wilayah Malo memiliki potensi besar untuk pengembangan buah-buahan unggulan. Saat ini, tiga jenis melon premium sedang dibudidayakan, yaitu Sweethami dari Belanda, Fujisawa dari Jepang, dan Etanon, yang semuanya memiliki nilai jual tinggi.
Ketua Yayasan Kabel Wahid Indonesia, Suryanto, menyambut baik dukungan dari pemerintah. Ia berharap kunjungan tersebut dapat memotivasi masyarakat, terutama anak muda, untuk aktif dalam pengembangan pertanian berbasis inovasi. (yan)
