More
    BerandaPendidikanGubes FK UNAIR Ungkap Kompleksitas ADHD Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

    Gubes FK UNAIR Ungkap Kompleksitas ADHD Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 30 Januari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Gangguan perkembangan saraf pada anak usia sekolah menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius. Umumnya gejala ini tampak sebelum usia 12 tahun hingga dapat berlanjut sampai remaja bahkan dewasa. Secara global, gangguan dengan sebutan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memiliki prevalensi pada anak usia sekolah diperkirakan berkisar 5–10 persen.

    Menanggapi persoalan tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Yunias Setiawati dr SpKJ SubspAR(K) FISCM memaparkan orasi ilmiahnya di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus Merr-C UNAIR pada Kamis (29/1/2026). Ia mengungkapkan bahwa ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor epigenetik, lingkungan, dan neurobiologis.

    “Tentunya ADHD akan berdampak pada fungsi akademik, sosial dan pekerjaan. Mungkin selama ini anak mengalami gangguan belajar, kecanduan game, depresi, cemas yang sejatinya erat hubungannya dengan ADHD yang tidak tertangani dengan baik,” tutur Prof Yunias.

    Kompleksitas Faktor

    Guru Besar bidang Ilmu Psikiatri Anak dan Remaja, serta Ilmu ADHD, Kesehatan Masyarakat menegaskan bahwa etiologi ADHD ini berkaitan dengan faktor genetik, epigenetik dan lingkungan. Faktor tersebut yang menyebabkan perubahan neurotransmitter di otak anak. Kombinasi faktor-faktor tersebut berperan dalam memicu perubahan sistem neurotransmiter di otak anak yang berdampak pada regulasi perhatian, emosi, dan perilaku.

    Namun, di balik kompleksitas itu, Prof Yunias mengungkapkan bahwa gangguan kesehatan mental yang banyak terjadi saat ini. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, khususnya ketika terjadi infeksi. Infeksi material dapat memicu dampak buruk pada kesehatan termasuk fisik, mental, emosional.

    “Proses epigenetik memang sangat berpengaruh pada perkembangan otak, diferensiasi sel, plastisitas sinaptik, serta fungsi kognitif. Dengan mempelajari faktor epigenetik ini kita dapat mencegah terjadinya gangguan-gangguan mental pada anak,” pungkasnya.

    Pentingnya Deteksi Dini

    Lebih lanjut, menurut Prof. Yunias kompleksitas faktor itu juga membuat pentingnya pendekatan deteksi dini yang mencakup identifikasi faktor risiko biologi seperti paparan timbal, status nutrisi zinc, serta riwayat infeksi material.

    Deteksi dini tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan konvensional seperti wawancara orang tua dan guru, observasi perilaku di kelas dan di rumah, hingga pemeriksaan laboratorium. Tak cukup itu, ia juga melakukan penelitian dengan pendekatan terkini di antaranya permainan digital, senam saniman, mindfulness, sensori integrasi dan terapi musik.

    “ADHD merupakan gangguan perkembangan neurodevelopmental multifaktorial sehingga deteksi dini melalui screening ADHD akan mencegah paparan ADHD. Selain itu, kita perlu menerapkan gaya hidup sehat melalui rajin olahraga, menjaga pola diet seimbang, istirahat cukup, regulasi tidur yang baik dan pengendalian stres,” tutupnya.(naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru