More
    BerandaPendidikanGubes UNAIR Ungkap Pentingnya Redesain Penanganan Kegawatdaruratan Jantung yang Optimal

    Gubes UNAIR Ungkap Pentingnya Redesain Penanganan Kegawatdaruratan Jantung yang Optimal

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 30 Januari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Sebagai rumah bagi akademisi hebat, Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengukuhkan guru besar baru pada Kamis, (29/1/2026) di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus Merr C. Salah satu guru besar yang dikukuhkan dalam kesempatan itu adalah Prof Dr Andrianto dr Sp JP Subsp I.K Kv (K) dalam bidang ilmu kegawatdaruratan jantung.

    Dalam kesempatan tersebut, Prof Andrianto menyampaikan orasi Redesain Sistem Penanganan Gawat Darurat Jantung: Upaya Mempercepat Penanganan Gangguan Jantung Akut yang Mengancam Jiwa. Prof Andrianto menyebut penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab utama kematian di dunia dan di Indonesia.

    Data menunjukkan penyakit jantung koroner dan stroke menempati peringkat teratas penyebab kematian, dengan ratusan ribu kematian setiap tahunnya di Indonesia. Sebagian besar kematian terjadi pada fase gawat darurat, ketika waktu menjadi faktor penentu hidup dan mati. Kegawatdaruratan jantung tidak semata persoalan klinis, melainkan persoalan sistem pelayanan kesehatan secara menyeluruh,” ungkapnya.

    Kegawatdaruratan Jantung

    Gangguan jantung akut seperti serangan jantung koroner akut, gagal jantung akut, dan henti jantung merupakan kondisi yang sangat bergantung pada kecepatan penanganan. Dalam ilmu kegawatdaruratan jantung, kondisi ini dikenal sebagai time-dependent cardiovascular emergencies. Prinsip time is muscle, time is life memiliki dasar biologis yang kuat.

    “Tingginya kematian kegawatdaruratan jantung di Indonesia bukan hanya oleh beratnya penyakit, namun sangat dipengaruhi keterlambatan penanganan pada seluruh rantai pelayanan. Mulai dari pra berobat hingga saat berobat. Bukan hanya rendahnya kesadaran terhadap bahaya kondisi tersebut, namun juga pelayanan medis yang cenderung belum optimal,” ungkapnya.

    Redesain Sistem Tepat

    Redesain sistem tersebut sangat diperlukan untuk mengoptimalkan penanganan kegawatdaruratan jantung. Redesain didasarkan pada lima filosofi utama. Filosofi tersebut yaitu filosofi waktu, filosofi integrasi, filosofi keadilan akses, filosofi pemberdayaan masyarakat, dan filosofi keberlanjutan dan pembelajaran sistem berbasis data.

    “Redesain sistem meliputi penguatan peran masyarakat sebagai first responder, pembangunan pelayanan medis emergensi terintegrasi, penegasan peran fasilitas kesehatan primer serta penerapan time-based clinical pathway di rumah sakit. Sistem rujukan harus didesain berbasis waktu, bukan administratif, dengan dukungan telekardiologi dan digital health untuk pengambilan keputusan real-time,” ungkapnya.

    Selain itu, regionalisasi penanganan kegawatdaruratan jantung berbasis data geospasial menjadi kunci untuk mengatasi tantangan geografis Indonesia, sehingga pasien dapat dirujuk langsung ke fasilitas yang paling mampu dalam waktu tercepat.  Dengan demikian penanganan kegawatdaruratan jantung bisa dilakukan dengan efisien dan tepat waktu.

    “Redesain sistem penanganan gawat darurat jantung merupakan kebutuhan mendesak dan tanggung jawab etik untuk menurunkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Dengan menempatkan waktu sebagai variabel keadilan dan sistem sebagai penentu utama luaran klinis, diharapkan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan melalui sistem kegawatdaruratan jantung yang terintegrasi dan berbasis bukti,” pungkasnya.(far)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru