More
    BerandaPendidikanGuru Besar UNAIR Dorong Inovasi Intervensi Koroner

    Guru Besar UNAIR Dorong Inovasi Intervensi Koroner

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 30 Januari 2026 | Draft Rakyat Newsroom –  Perkembangan teknologi intervensi koroner perkutan terus menjadi bagian penting dalam penanganan serangan jantung koroner, penyakit kardiovaskular yang masih menempati peringkat tertinggi penyebab kematian di dunia. Inovasi di bidang ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan penanganan cepat dan tepat agar kerusakan otot jantung dapat ditekan dan risiko gagal jantung hingga kematian dapat diminimalkan.

    Sejalan dengan upaya tersebut, Universitas Airlangga (UNAIR) mengangkat Prof Dr I Gde Rurus Suryawan dr SpJP Subsp KI (K) sebagai guru besar dalam bidang Intervensi Koroner pada Kamis (29/1/2026). Pengukuhan yang berlangsung di Kampus MERR-C Universitas Airlangga tersebut menjadi momentum penguatan peran akademisi dalam pengembangan layanan kardiovaskular berbasis riset dan inovasi.

    Evolusi Intervensi Koroner Perkutan

    Dalam orasi ilmiahnya, Prof Rurus memaparkan bahwa serangan jantung koroner terjadi akibat sumbatan mendadak pada arteri koroner yang menghambat aliran darah dan oksigen menuju otot jantung. Kondisi ini memicu kerusakan jaringan jantung yang akan semakin meluas apabila penanganan tidak dilakukan secara cepat dan tepat.

    Situasi tersebut tercermin pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencatat serangan jantung menyebabkan 17,8 juta kematian secara global. Prof Rurus menegaskan bahwa luas dan durasi kerusakan otot jantung sangat menentukan angka kematian pasien, sehingga percepatan pemulihan aliran darah koroner menjadi kunci utama keberhasilan penanganan.

    “Setiap menit keterlambatan berkontribusi pada semakin luasnya kerusakan otot jantung dan meningkatkan risiko kematian akibat aritmia, gagal jantung akut, hingga edema paru akut,” ujar Prof Rurus.

    Berangkat dari tantangan tersebut, intervensi koroner perkutan terus berkembang, mulai dari teknik angioplasti balon hingga penggunaan stent untuk mempertahankan patensi pembuluh darah koroner. Perkembangan ini secara signifikan meningkatkan keberhasilan terapi sekaligus menurunkan risiko kolaps pembuluh darah pascatindakan.

    Inovasi Stent dan Pendekatan Klinis

    Perkembangan teknologi stent kemudian berevolusi dari bare-metal stents hingga drug-eluting stents yang mampu menekan risiko penyempitan ulang pembuluh darah. Meski demikian, penggunaan stent berlapis obat menuntut terapi pengencer darah ganda jangka panjang yang berpotensi meningkatkan risiko perdarahan.

    Menjawab tantangan tersebut, Prof Rurus menyoroti pengembangan bioresorbable vascular scaffold (BVS) yang dapat diserap tubuh setelah fungsi pembuluh darah koroner kembali stabil. Ia menekankan pentingnya inovasi material polimer dengan kekuatan radial yang memadai agar stent tetap menopang pembuluh darah tanpa meninggalkan residu jangka panjang.

    “Jika teknologi BVS dapat dioptimalkan, maka fungsi fisiologis pembuluh darah koroner dapat tetap terjaga dan kebutuhan terapi anti-platelet jangka panjang dapat dikurangi,” jelasnya. Selain pengembangan teknologi, Prof Rurus juga merumuskan Skor RURUS SURYAWAN, sistem prediksi klinis berbasis 13 parameter sederhana untuk menilai peluang kelangsungan hidup pasien pasca serangan jantung. Ia mendorong penerapan skor tersebut sebagai bagian dari upaya bersama menurunkan angka kematian akibat penyakit jantung koroner serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3.(far)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru