Surabaya 12 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Dinamika organisasi yang kian volatil, tidak pasti, kompleks, dan ambigu mendorong lahirnya refleksi tentang makna keunggulan institusi. Kamis (12/2/2026), di Kampus MERR-C Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dian Ekowati SE MSi MAppCom(OrgCh) PhD menyampaikan orasi ilmiah menyoroti fenomena tersebut dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Studi Keorganisasian, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR. Dalam forum akademik tersebut, ia mengangkat tema Pencapaian Keunggulan Organisasi melalui Inisiasi Intelektual Kolektif, Komitmen terhadap Transformasi, dan Deteritorialisasi Pengetahuan Sektoral untuk menjawab tantangan implementasi strategi di tengah era VUCA.
Strategi sebagai Sensemaking
Prof Dian menilai banyak organisasi menyusun dokumen strategis secara komprehensif, tetapi gagal menerjemahkannya ke dalam transformasi nyata. Organisasi kerap menganggap penyusunan rencana sebagai bukti keselarasan, padahal praktik di lapangan berjalan berbeda. Kondisi itu melahirkan fenomena decoupling, ketika struktur formal terpisah dari tindakan operasional.
Ia menegaskan bahwa strategi tidak boleh berhenti sebagai cetak biru administratif. Organisasi harus memaknai strategi sebagai proses sensemaking kolektif yang berlangsung terus-menerus. Melalui proses itu, setiap anggota menafsirkan situasi, membangun makna bersama, lalu mewujudkannya dalam tindakan yang rasional dan adaptif.
“Strategi tidak dapat dipahami sebagai blueprint yang kaku, melainkan sebagai cara berpikir kolektif yang tumbuh melalui proses sensemaking berkelanjutan,” ujar Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR itu.
Pendekatan tersebut membentuk collective mind yang lahir dari hubungan kerja yang saling memperhatikan (heedful interrelating). Dengan cara itu, organisasi membangun kohesi bukan karena kepatuhan formal, tetapi karena kesadaran bersama terhadap arah institusi.
Komitmen dan Kolaborasi Kolektif
Lebih lanjut, Prof Dian menekankan pentingnya komitmen terhadap transformasi. Ia membedakan komitmen dari sekadar kepatuhan. Komitmen lahir ketika individu menginternalisasi nilai perubahan dan bersedia menginvestasikan energi pribadi demi kemajuan organisasi.
Namun, ia melihat fragmentasi pengetahuan sektoral sebagai hambatan utama. Setiap unit kerja sering mempertahankan wilayah pengetahuannya sendiri. Situasi itu memicu perilaku knowledge hiding dan menghambat inovasi lintas sektor. “Deteritorialisasi pengetahuan bukan berarti menghapus keahlian. Tetapi membuka batas antar unit agar pengetahuan dapat mengalir dan dimanfaatkan secara kolektif,” tegasnya.
Melalui deteritorialisasi, organisasi dapat menyatukan interpretasi yang terpecah menjadi pemahaman strategis bersama. Proses itu memperkuat komitmen perubahan sekaligus menjaga konsistensi institusional di tengah dinamika lingkungan.
Pada akhir, Prof Dian memandang organizational excellence sebagai proses institusional yang terus bergerak. Keunggulan tidak lahir dari kecerdasan individual semata, tetapi dari kemampuan institusi menumbuhkan kecerdasan kolektif, menjaga komitmen perubahan, dan meruntuhkan sekat pengetahuan sektoral. Dengan pendekatan itu, universitas dapat tetap relevan, adaptif, dan bermakna dalam menghadapi kompleksitas zaman.(naf)
