Surabaya 3 Oktober 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa secara resmi membuka Jatim Fest 2025 yang menjadi rangkaian Hari Jadi ke-80 Pemprov Jatim, di Exhibition Hall Grand City Mall Surabaya, Rabu (1/10/2025). Ajang tahunan ini akan berlangsung hingga 5 Oktober 2025 dengan menampilkan beragam inovasi, kreativitas, serta potensi daerah.
Khofifah menegaskan bahwa Jatim Fest dirancang sebagai ruang ekspresi bagi kreativitas masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ajang penting untuk mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal.
“Semoga kegiatan ini menjadi energi baru bagi ekonomi kreatif Jawa Timur,” ujar Gubernur Khofifah di sela acara pembukaan. Ia menambahkan, keberadaan para pengrajin lokal dalam pameran ini membuktikan bahwa Jatim memiliki daya saing tinggi dalam ekonomi kreatif.
Pada kesempatan tersebut, Dinas Sosial (Dinsos) Jatim turut serta memeriahkan gelaran Jatim Fest 2025 dengan menghadirkan booth bertema Tendang Stigma Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ). Tema ini diangkat untuk mengikis pandangan negatif masyarakat terhadap ODGJ yang kerap terpinggirkan.
Di hari pertama, booth Dinsos Jatim menyuguhkan berbagai kegiatan menarik. Mulai dari pembuatan batik oleh penerima manfaat Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Laras (UPT RSBL) Kediri Dinsos Jatim, live music dan melukis oleh dua eks ODGJ asal Bondowoso, hingga kegiatan menyulam dari penerima manfaat Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PRS PMKS) Sidoarjo Dinsos Jatim.
Kepala Dinsos Jatim Dra. Restu Novi Widiani, MM menyampaikan bahwa keterlibatan eks ODGJ dalam kegiatan kreatif menjadi cara efektif untuk menunjukkan kemampuan mereka. “Melalui ruang ini kami ingin masyarakat melihat langsung bahwa mereka bisa berkarya, sembuh, dan kembali berdaya. Stigma negatif harus kita hapus bersama,” tegasnya.
Selain itu, booth Dinsos Jatim juga menghadirkan replika pemasungan sebagai media edukasi kepada pengunjung. Dengan pendekatan tersebut, pengunjung diajak memahami bahwa pemasungan bukanlah solusi, melainkan bentuk diskriminasi yang harus dihapuskan.
Menariknya, di akhir acara pembukaan, Yoyok, seorang pelukis eks ODGJ asal Bondowoso menyerahkan lukisan wajah Gubernur Khofifah yang telah dibuat sebelumnya. Lukisan tersebut menjadi simbol apresiasi sekaligus bukti nyata kreativitas tanpa batas dari penyintas ODGJ.(qal)
