Surabaya 21 Nopember 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Kiprah alumni Universitas Airlangga (UNAIR) kembali memberikan inspirasi nyata bagi masyarakat. Salah satu dosen inspiratif, Dr R Azizah SH M Kes dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR telah menorehkan kiprah nyata melalui Desa Binaan Bank Sampah Pattuh Muamalat di Desa Larangan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Selama sembilan tahun, program ini menjadi percontohan pengelolaan sampah berkelanjutan yang menggabungkan riset, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.
Dari Program Kampung Iklim Menuju Desa Berkelanjutan
Program ini bermula dari keterlibatan Dr R Azizah sebagai tim ahli Program Kampung Iklim (ProKlim) Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur sejak tahun 2016. Melihat besarnya dampak emisi gas rumah kaca terhadap pemanasan global, ia menilai perlu adanya proyek percontohan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
“Seluruh lapisan masyarakat, termasuk perguruan tinggi, harus turut meminimalkan emisi gas rumah kaca. Karena itu, kami memilih Desa Larangan sebagai daerah binaan yang mampu dan mau berkomitmen,” jelasnya.
Dari sana, ia bersama tim riset FKM UNAIR mulai mengembangkan teknologi pengolahan sampah organik berbasis rumah tangga serta menciptakan sistem pengelolaan sampah tanpa gudang atau zero warehouse system.
Inovasi: Aplikasi Bank Sampah di Level Rumah Tangga
Salah satu inovasi unggulan dari desa binaan ini adalah pengembangan aplikasi digital bank sampah yang memungkinkan warga mencatat volume dan jenis sampah dari rumah masing-masing. Melalui sistem ini, masyarakat tidak hanya belajar memilah sampah, tetapi juga mengetahui kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon.
“Melalui aplikasi ini, warga bisa menghitung berapa jumlah sampah yang mereka hasilkan dan berapa besar sumbangan mereka dalam mengendalikan gas rumah kaca seperti CO₂ dan CH₄,” tutur Dr R Azizah.
Inovasi ini menjadikan Desa Larangan sebagai motor penggerak program pengelolaan sampah digital di Jawa Timur, bahkan menjadi rujukan bagi beberapa daerah lain dalam kegiatan mitigasi perubahan iklim.
Tantangan dan Kolaborasi Internasional
Meski telah berjalan hampir satu dekade, tantangan terbesar menurutnya adalah menyadarkan masyarakat agar konsisten berperilaku ramah lingkungan. “Masih banyak yang berimajinasi tanpa bertindak. Padahal perubahan butuh aksi nyata,” ujarnya.
Melalui jejaring World University Association for Community Development (WUACD), program tersebut kini berkolaborasi dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan melibatkan mahasiswa dalam pelatihan serta praktik langsung pengelolaan sampah digital.
Jaga Bumi dengan Aksi Nyata
Dr R Azizah menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan dimulai dari kehidupan sehari-hari. “The earth is only one. Gunakan energi secukupnya, kelola sampahmu dengan bijak, dan jadikan keseharianmu bagian dari aksi menjaga bumi,” pesannya. Dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, kiprah Dr R Azizah membuktikan bahwa inovasi kecil dari desa dapat memberi dampak besar bagi keberlanjutan bumi dan kesejahteraan masyarakat. (far)
