Surabaya 14 Januari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Meniti karier di luar negeri merupakan impian bagi banyak lulusan kesehatan, namun tidak sedikit yang ragu karena tantangan budaya dan sistem kerja yang kontras. Hal ini dibuktikan oleh Ina Titi Sri Wulandari SKep Ns RN, alumnus Fakultas Keperawatan (FKP) Universitas Airlangga (UNAIR) yang kini sukses mengabdikan dirinya di Fuke Hospital, Saitama, Jepang. Perjalanan karier Ina merupakan bukti nyata bahwa keberanian untuk keluar dari zona nyaman dapat membuka pintu peluang internasional yang tak terduga.
Berawal dari Keberanian Mencoba
Ina merupakan sosok yang aktif di dunia kesehatan dalam negeri. Ia sempat meniti karier di RS PHC Surabaya dan menjadi dosen di Unika Widya Mandala. Namun, titik balik kariernya muncul saat ia melihat informasi lowongan kerja ke Jepang melalui program pemerintah G2G IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement).
“Waktu itu saya hanya mencoba melamar kerja layaknya fresh graduate pada umumnya. Kebetulan saat itu hanya saya yang mendaftar untuk posisi ke Jepang,” ungkapnya.
Namun, perjuangan tidak berhenti di sana. Ia harus mengikuti pelatihan intensif sebagai tenaga medis untuk menyesuaikan diri dengan standar tinggi pelayanan kesehatan di Jepang sebelum resmi berpraktik di Fuke Hospital.
Menaklukkan Culture Shock dan Bahasa
Bekerja di Jepang bukan sekadar berpindah lokasi kerja, melainkan melakukan transformasi total terhadap etos kerja. Ina mengakui bahwa dirinya sempat mengalami culture shock yang cukup hebat akibat perbedaan sistem workflow dan budaya disiplin yang sangat ketat. Standar ketepatan waktu dan prosedur kerja di Jepang menuntut tingkat presisi yang hampir tanpa celah. “Meskipun di Indonesia saya sudah menyandang status perawat senior, di Jepang saya harus bersedia menanggalkan ego tersebut. Saya harus memulai semuanya dari nol lagi,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa adaptasi di Jepang membutuhkan kerendahan hati untuk kembali menjadi ‘anak baru’ yang patuh pada regulasi setempat. Baginya, tantangan terbesar bukan hanya terletak pada penguasaan bahasa Jepang yang kompleks, melainkan pada kekuatan mental untuk bertahan di bawah ekspektasi tinggi masyarakat Jepang.
“Kita harus mengerti betul apa kriteria yang diinginkan orang Jepang dalam pelayanan kesehatan. Mau tidak mau, mental harus kuat karena kita tidak hanya belajar sistem medis mereka, tapi juga cara mereka berpikir dan berinteraksi,” tambahnya.
Rutinitas di Fuke Hospital menuntut kemandirian penuh dalam setiap tindakan medis. Ketelitian tinggi yang diterapkan di sana secara perlahan membentuk Ina menjadi pribadi yang lebih tangguh dan profesional. Pengalaman ini membuktikan bahwa kompetensi klinis saja tidak cukup untuk menembus pasar global. Melainkan perlu daya tahan mental dan kemampuan adaptasi budaya yang luar biasa untuk benar-benar bisa diterima di lingkungan kerja internasional.(far)
