Lumajang 29 Maret 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Tradisi Kupatan di Kabupaten Lumajang kembali menegaskan perannya bukan sekadar perayaan budaya, tetapi sebagai penggerak nyata ekonomi rakyat dan penguat sektor pariwisata daerah. Sabtu (28/3/2026), ribuan masyarakat memadati kawasan Pantai Bambang dan Pantai Mbah Drajid, menciptakan lonjakan aktivitas yang signifikan.
Kepadatan pengunjung yang bahkan melampaui hari pertama Idulfitri menunjukkan bahwa Kupatan telah berkembang menjadi momentum puncak pergerakan masyarakat. Ini bukan hanya peristiwa sosial, tetapi fenomena ekonomi yang menghadirkan perputaran uang secara langsung di tingkat akar rumput.
Di sepanjang kawasan pantai, aktivitas ekonomi tumbuh serentak. Pedagang makanan, penyedia jasa parkir, penyewaan tikar, hingga pelaku usaha kecil lainnya menikmati peningkatan pendapatan dalam waktu singkat. Pergerakan ini mencerminkan kuatnya efek berganda dari sektor pariwisata berbasis tradisi.
Cerita itu tergambar dari Buamat, pedagang kaki lima penjual cilok (cilot) yang ikut merasakan dampak langsung dari ramainya pengunjung. Dalam hitungan jam, dagangannya hampir habis terjual.
“Alhamdulillah, ramai sekali. Biasanya jualan sampai sore, sekarang siang sudah hampir habis,” ujarnya.
Pengalaman Buamat menjadi gambaran nyata bagaimana tradisi mampu membuka ruang ekonomi bagi masyarakat kecil. Momentum Kupatan memberi peluang peningkatan pendapatan tanpa harus bergantung pada sistem ekonomi skala besar.
Lebih jauh, fenomena ini memperlihatkan bahwa pariwisata berbasis budaya memiliki daya tahan yang kuat karena tumbuh dari kebiasaan dan nilai yang hidup di masyarakat. Ketupat yang dibawa dari rumah bukan sekadar makanan, tetapi simbol kebersamaan yang memperkuat interaksi sosial di ruang publik.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menilai bahwa Kupatan merupakan momentum strategis yang perlu dikelola secara lebih terarah agar memberikan dampak jangka panjang bagi daerah.
“Antusias masyarakat luar biasa. Kupatan ini memang selalu jadi puncak, bahkan bisa lebih ramai dibanding awal Lebaran,” ujarnya saat melakukan monitoring.
Menurutnya, tingginya kunjungan wisatawan dari berbagai daerah seperti Jember, Lamongan, hingga wilayah lain di Jawa Timur menjadi indikator bahwa Lumajang memiliki daya tarik yang kompetitif di sektor pariwisata.
Arus kunjungan tersebut tidak hanya berdampak pada sektor informal, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor pendukung seperti transportasi, kuliner, dan jasa. Ini menunjukkan bahwa satu momentum budaya mampu menggerakkan ekosistem ekonomi secara luas.
“Lumajang ini lengkap. Potensi ini harus kita kelola bersama agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma menegaskan bahwa tren wisata lokal yang terus meningkat harus diimbangi dengan penguatan pengelolaan destinasi.
“Minat masyarakat terhadap wisata lokal terus meningkat. Ini menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Di sisi lain, pengamanan yang dilakukan oleh aparat gabungan memastikan bahwa lonjakan aktivitas tetap terkendali. Stabilitas dan kenyamanan menjadi faktor penting agar pengalaman wisata tetap positif dan berkelanjutan.
Kupatan di Lumajang pada akhirnya menjadi contoh konkret bagaimana tradisi, pariwisata, dan ekonomi dapat saling terhubung dalam satu momentum. Ia tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang langsung dirasakan masyarakat.
Dari pesisir selatan ini, terlihat jelas bahwa kekuatan lokal mampu menjadi fondasi pembangunan. Tradisi yang dirawat dengan baik tidak hanya menjaga identitas, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan.
Kupatan bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah energi sosial dan ekonomi yang terus hidup, menggerakkan, dan memperkuat Lumajang dari akar masyarakatnya. (MC Kab. Lumajang)
