Surabaya 21 Nopember 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Wisudawan terbaik Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Nur Rifa Okstriana membuktikan bahwa kesungguhan dan konsistensi mampu mengantarkan seseorang pada pencapaian terbaik. Perempuan asal Bojonegoro itu berhasil menyelesaikan studi dengan IPK 3,74 predikat sangat memuaskan dan menjadi wisudawan terbaik Unesa pada gelaran wisuda ke-117 pada 11 November 2025.
Rifa tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai kerja keras dan kejujuran. Anak dari pasangan Abdul Kamid (wiraswasta) dan Sri Yuliani (guru) ini mengatakan, di balik keberhasilannya, dua kakaknya memiliki peran besar dalam kesuksesan perjalanan pendidikannya.
“Pada masa itu, keluarga kami sedang berada di titik terendah, tetapi kedua kakak saya berjuang keras agar saya bisa sampai di titik ini,” ungkapnya.
Rifa diterima di Unesa melalui jalur SNMPTN dengan pilihan Program Studi S-1 Ilmu Hukum. Salah satu yang menginspirasi ia menekuni bidang hukum adalah Baharuddin Lopa, jaksa agung legendaris yang dikenal karena integritas dan kejujurannya.
“Dari beliau saya belajar bahwa hukum bukan hanya soal pasal, tetapi tentang moralitas dan keberanian menjunjung kebenaran,” kata Rifa.
Ketertarikannya pada Hukum Ketenagakerjaan membawanya menulis skripsi berjudul “Tinjauan Hukum Pemberian Upah di Bawah Upah Minimum kepada Dosen Tetap Perguruan Tinggi Swasta.”
Topik ini muncul dari keprihatinannya terhadap fenomena ketimpangan antara beban kerja dan penghasilan dosen tetap di perguruan tinggi swasta (PTS). Banyak dosen yang masih menerima upah di bawah standar Upah Minimum Provinsi, padahal mereka adalah tenaga profesional yang seharusnya mendapatkan penghasilan layak.
Untuk menambah skill-nya, Rifa aktif dalam Tim Redaksi Indonesian Journal of Labor Law and Industrial Relations Fakultas Hukum Unesa. Sebagai editor, ia mengelola naskah, memfasilitasi proses peer-review, dan memastikan setiap artikel memenuhi standar publikasi ilmiah.
Ia juga menulis artikel berjudul “Legal Protection of Women Workers on the Night Shift (Comparison of Indonesia and Malaysia)”, yang membahas perlindungan hukum bagi pekerja perempuan di malam hari. Semua pengalaman itu, mengajarkan pentingnya ketelitian, disiplin, dan kerja sama antarpenulis serta reviewer agar hasilnya bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Selain unggul di bidang akademik, Rifa juga terjun langsung dalam praktik hukum. Ia menjalani magang di PT Dharma Lautan Utama (DLU) untuk mempelajari penerapan hukum ketenagakerjaan dalam dunia kerja.
Di sana, ia terlibat langsung dalam pengelolaan data karyawan dan pembuatan dokumen perjanjian kerja. Ia juga magang di Pengadilan Negeri Bojonegoro untuk memahami proses administrasi perkara perdata dan pidana, pencatatan persidangan, hingga penyusunan berkas keputusan.
Salah satu pengalaman paling berkesan selama kuliah adalah saat mengikuti Praktik Latihan Kemahiran Hukum (PLKH). Selama satu semester, Rifa bersama rekan-rekannya menjalani simulasi sidang lengkap dengan peran sebagai hakim, jaksa, penasihat hukum, dan panitera.
“Pengalaman itu sangat berharga karena benar-benar menggambarkan dunia kerja seorang praktisi hukum,” katanya.
Selama kuliah. Rifa juga aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Hukum. Ia pernah menjadi Staf Ahli Divisi Publikasi dan kemudian dipercaya sebagai Ketua Divisi Pemberdayaan Perempuan.
Dalam peran itu, ia turut memimpin program Rangkul Puan, sebuah komunitas ramah gender yang menjadi ruang aman dan edukatif bagi mahasiswa untuk membangun kesadaran tentang kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan seksual di kampus.
Setelah lulus dan diwisuda, Rifa berencana melanjutkan karier di instansi pemerintah atau lembaga peradilan, seperti Mahkamah Agung atau BUMN. Ia juga memiliki niat untuk melanjutkan studi ke jenjang magister (S2) di bidang hukum agar bisa memperdalam analisis dan berkontribusi lebih luas bagi masyarakat. (bry)
