Surabaya 18 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Perubahan iklim yang semakin ekstrem berdampak langsung pada ketahanan pangan, terutama bagi petani kecil di berbagai negara. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai inovasi berbasis teknologi untuk memperkuat resiliensi sektor pertanian sekaligus menjadi perhatian dalam forum kompetisi ilmiah tingkat internasional.
Menjawab tantangan itu, lima mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam Tim AgriTerrace sukses meraih medali emas pada kompetisi Essay International Student Summit yang berlangsung pada Februari 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Tim yang terdiri atas Jose Centurio Siahaan, Fawaz Januar Iksan, Laura Amaria Dwiputri Julianti, Fachry Haris, dan Mesakh Roi Pratama Ginsu tersebut bersaing dengan ratusan kelompok dari enam negara dalam ajang yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) serta World Associations of Young Scientist.
Inovasi Digital untuk Ketahanan Petani Kecil
Dalam kompetisi tersebut, Tim AgriTerrace mengusung inovasi bertajuk AGRITERRACE: Strengthening Smallholder Resilience through AI-Driven Satellite Analytics and Microfinance in Climate-Vulnerable Regions. Gagasan itu berfokus pada penguatan ketahanan petani kecil di wilayah rentan iklim yang kerap menghadapi risiko gagal panen.
Melalui platform digital berbasis kecerdasan buatan dan analisis data satelit, tim menghadirkan sistem prediksi yang membantu petani membaca potensi risiko iklim sejak dini. Inovasi tersebut juga terintegrasi dengan fitur pembiayaan mikro guna memperluas akses permodalan bagi petani kecil.
Kompetisi itu menghadirkan peserta dari Malaysia, Indonesia, Filipina, Turkmenistan, Somalia, dan Kenya. Atmosfer persaingan yang ketat menjadi ruang pembelajaran sekaligus tolok ukur standar inovasi global bagi para peserta.
“Inovasi yang kuat bukan hanya tentang ide yang cerdas, tetapi juga tentang kolaborasi dan kemampuan beradaptasi dengan standar global,” ujar Laura.
Proses Intensif dan Standar Kompetisi Tinggi
Tim mempersiapkan diri selama empat hingga lima bulan sebelum tampil di forum internasional tersebut. Mereka memulai dari eksplorasi isu, penguatan landasan riset, penyusunan konsep, hingga simulasi presentasi secara intensif.
Tantangan terbesar datang dari tingginya kualitas peserta. Beberapa tim berasal dari universitas ternama dan bahkan dari jenjang magister, sehingga standar riset dan argumentasi yang ditampilkan berada pada level yang sangat kompetitif.
Atas capaian itu, Tim AgriTerrace meraih medali emas yang hanya diberikan kepada delapan tim dengan poin tertinggi. Selain itu, mereka juga menyabet predikat 1st runner up kategori keseluruhan serta membawa pulang gelar Grand Champion bersama tim lain dari UNAIR.
“Kami belajar bahwa konsistensi dalam riset dan kekompakan tim menjadi kunci untuk dapat bersaing di tingkat internasional,” tutur Jose.
Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi mahasiswa Ilmu Ekonomi, tetapi juga mempertegas kapasitas mahasiswa UNAIR dalam berkompetisi di panggung internasional. Melalui inovasi berbasis riset yang aplikatif, UNAIR terus menunjukkan perannya dalam melahirkan talenta unggul yang mampu memberikan solusi bagi tantangan global. (naf)
