Surabaya 10 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom- Cabang olahraga Muaythai kembali diproyeksikan menjadi salah satu andalan Jawa Timur pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri. Meski menghadapi keterbatasan anggaran pada awal tahun, Pengurus Provinsi (Pengprov) Muaythai Indonesia (MI) Jawa Timur memastikan proses pembinaan dan persiapan atlet tetap berjalan.
Ketua Pengprov MI Jawa Timur, Baso Juherman, mengatakan bahwa Muaythai dipastikan akan mempertandingkan 21 nomor tanding pada PON Bela Diri mendatang. Jumlah tersebut menyesuaikan dengan nomor yang dipertandingkan pada PON Aceh–Sumatera Utara, sekaligus berbeda dengan format di ajang SEA Games.
“Kalau sebelumnya 22 nomor, sekarang menjadi 21. Nomor Boran dan Muay Robic tidak dipertandingkan, tetapi kelas 65 kilogram tetap ada seperti di SEA Games,” ujar Baso usai menghadiri pelantikan dan pengukuhan Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur periode 2025–2029 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan, Ketua Umum Pengurus Besar Muaythai Indonesia (PBMI) telah menyampaikan langsung usulan tersebut kepada Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman. Usulan itu bertujuan menjaga konsistensi nomor tanding agar tidak merugikan daerah yang telah menyiapkan atlet berdasarkan format PON sebelumnya.
“Ketua Umum PBMI akan menyampaikan surat resmi. Prinsipnya, nomor tanding tetap sama seperti di Aceh dan Sumatera Utara,” kata Baso.
Dalam hal pembinaan, Baso memastikan para atlet Muaythai Jawa Timur telah menjalani pemusatan latihan daerah (puslatda) sejak September lalu, tidak lama setelah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) berakhir. Meski pembiayaan pembinaan sempat terhenti pada periode Januari hingga April, para atlet tetap menjalani latihan secara mandiri maupun bersama.
“Mereka tetap berlatih. Apalagi ada agenda keberangkatan ke Sulawesi Utara untuk persiapan PON Bela Diri, itu menjadi pemicu semangat,” ujarnya.
Pengprov MI Jatim juga membuka peluang bagi atlet-atlet baru yang menunjukkan prestasi di tingkat nasional. Sejumlah atlet peraih medali emas pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu direkomendasikan untuk memperkuat kontingen Jawa Timur.
“Acuannya Kejurnas. Atlet yang meraih emas pasti kami usulkan. Dari Porprov juga ada, tetapi yang benar-benar siap adalah mereka yang mampu membuktikan diri di Kejurnas,” kata Baso.
Sistem pembinaan berjenjang pun tetap diterapkan hingga mendekati PON Bela Diri. Liga Muaythai yang dimulai sejak Januari menjadi sarana menjaga atmosfer kompetisi. Liga 1 digelar pada Januari, disusul Liga 2 pada April, dengan siklus pertandingan setiap tiga bulan.
“Liga ini penting untuk mengasah kemampuan atlet secara berkelanjutan,” ujarnya.
Bagi atlet elit yang minim lawan di daerah, Pengprov MI Jatim membuka kelas terbuka dengan mengundang atlet dari provinsi lain. Mekanisme promosi dan degradasi diberlakukan secara ketat untuk menjaga kompetisi tetap sehat.
“Kalau atlet Porprov atau atlet baru bisa mengalahkan atlet puslatda, maka dia promosi. Atlet puslatda harus siap degradasi. Itu prinsip keadilan,” tegas Baso.
Meski kerap disebut sebagai cabang olahraga unggulan Jawa Timur, Baso menilai predikat tersebut justru menghadirkan tantangan tersendiri. Persaingan dengan daerah lain, terutama Jawa Barat, disebut semakin ketat.
“Jawa Barat menjadi pesaing kuat. Mereka rutin menggelar training camp ke luar negeri. Apalagi sekarang, berdasarkan hasil Rakernas Muaythai, atlet amatir diperbolehkan tampil di level profesional,” ujarnya.
Dengan berbagai dinamika tersebut, Muaythai Jawa Timur dituntut terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas pembinaan. Bagi Baso, PON Bela Diri bukan sekadar ajang perburuan medali, melainkan pembuktian keberhasilan sistem pembinaan jangka panjang.
“Ini tantangan bersama. Namun dengan kerja keras dan pembinaan yang konsisten, Muaythai Jawa Timur siap bersaing dan berprestasi,” pungkasnya.(her)
