More
    BerandaUncategorizedPakar UNAIR Soroti Dampak Agreement on Reciprocal Tariff bagi Indonesia

    Pakar UNAIR Soroti Dampak Agreement on Reciprocal Tariff bagi Indonesia

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 10 Maret 2026 | Draft Rakyat Newsroom  Indonesia resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dengan membuka sekitar 99 persen tarif barang dari Amerika Serikat (AS). Menanggapi hal tersebut, Dosen Ekonomi Internasional Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Unggul Heriqbaldi SE MSi MApp Ec, memberikan pandangannya.

    Unggul menilai dalam perspektif ekonomi internasional, kesepakatan perdagangan tidak selalu bersifat simetris, tetapi dipengaruhi kekuatan ekonomi dan posisi tawar negara. Secara struktur ekonomi, AS memiliki daya tawar lebih kuat karena ukuran ekonominya besar dan pasar domestiknya menjadi tujuan utama ekspor negara berkembang.

    “Dalam banyak perjanjian perdagangan, negara berkembang sering memberikan konsesi lebih besar untuk mempertahankan akses pasar ke negara maju. ART dapat dipahami sebagai strategi Indonesia menjaga akses pasar ekspor, terutama sektor manufaktur padat karya seperti tekstil dan alas kaki yang sangat bergantung pada pasar AS,” jelasnya.

    Dampak ART Bagi Indonesia

    Unggul menyebut bahwa dalam praktik perdagangan internasional, resiprositas tidak selalu berarti kesetaraan tarif secara identik. Jika Indonesia membuka lebih dari 99 persen tarif untuk produk AS, sementara Indonesia masih menghadapi tarif hingga 19 persen di pasar AS, maka secara teknis hubungan tersebut tidak sepenuhnya simetris.

    “Ini menunjukkan bahwa posisi tawar Indonesia dalam negosiasi kemungkinan lebih fokus pada menjaga stabilitas akses pasar ekspor daripada menuntut kesetaraan tarif secara langsung. Namun tentu saja, pemerintah perlu memastikan bahwa konsesi tersebut diimbangi dengan keuntungan strategis jangka panjang, seperti transfer teknologi, investasi, atau integrasi rantai pasok global,” terangnya. 

    Menurutnya, perjanjian ini berpotensi meningkatkan kompetisi di pasar domestik. Industri dengan biaya produksi tinggi atau teknologi tertinggal akan menghadapi tekanan lebih besar. Sebaliknya, sektor yang membutuhkan bahan baku atau teknologi dari AS dapat memperoleh manfaat melalui penurunan biaya produksi.

    “Sektor yang relatif rentan biasanya industri berorientasi pasar domestik dengan produktivitas rendah, seperti produk pertanian, makanan olahan, dan manufaktur ringan. Sementara sektor yang berpotensi diuntungkan adalah industri yang terintegrasi dalam global value chain seperti tekstil, elektronik, serta industri kimia dan farmasi,” imbuhnya.

    Strategi Indonesia

    Unggul menilai potensi peningkatan impor dapat diimbangi oleh kenaikan ekspor Indonesia. Peluang tarif nol juga dapat menjadi kesempatan strategis bagi industri tekstil karena AS merupakan salah satu pasar ekspor terbesar bagi produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia.

    “Jika hanya membuka pasar tanpa strategi industrial yang jelas, maka Indonesia berisiko menjadi pasar konsumsi bagi produk asing. Namun, jika disertai dengan kebijakan peningkatan produktivitas industri, investasi teknologi, dan penguatan rantai pasok domestik, maka perjanjian seperti ini justru bisa menjadi pintu masuk integrasi Indonesia dalam global value chain,” jelasnya.

    Ia menambahkan beberapa langkah yang dapat dilakukan Indonesia, antara lain memperkuat industri domestik melalui peningkatan produktivitas dan teknologi, mendorong investasi manufaktur berorientasi ekspor, mengembangkan industri hulu, meningkatkan kualitas SDM industri, serta memanfaatkan perjanjian perdagangan untuk transfer teknologi dan investasi. “Dengan strategi tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain penting dalam rantai produksi global,” pesannya.(naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru