More
    BerandaPendidikanPakar Unesa Ungkap Bahaya Kurang Gerak bagi Kesehatan Mental dan Sarankan untuk...

    Pakar Unesa Ungkap Bahaya Kurang Gerak bagi Kesehatan Mental dan Sarankan untuk Memanfaatkan ‘Apotek Alami’

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 23 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Masyarakat modern saat ini tengah menghadapi “gelombang sunyi” berupa penyakit hipokinetik, atau gangguan kesehatan yang dipicu kurangnya gerak tubuh. Gaya hidup malas gerak atau sedentary lifestyle kini seolah telah menjadi norma baru yang didorong kemudahan teknologi, urbanisasi yang mempersempit ruang terbuka, hingga tuntutan pekerjaan yang memaksa individu duduk berjam-jam di depan layar.

    Tanpa disadari, pola hidup ini telah merampas hak dasar tubuh untuk aktif bergerak. Kondisi yang memprihatinkan ini menjadi perhatian serius Prof. Dr. Noortje Anita Kumaat, M.Kes., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Analisis Performa Senam, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), pada 10 Februari 2026 lalu.

    Ia menegaskan, bahwa defisit aktivitas fisik merupakan “pintu masuk” bagi berbagai penyakit berisiko tinggi seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Namun, dampak yang dihasilkan ternyata tidak hanya berhenti pada risiko gangguan atau kesehatan fisik semata, tetapi juga kesehatan mental.

    Menurut Noortje Anita Kumaat, kurang gerak atau aktivitas fisik memiliki korelasi linier yang sangat kuat dengan kerentanan kesehatan mental. Ia menegaskan bahwa berbagai riset neurobiologi mutakhir menunjukkan bahwa ketika tubuh tidak aktif, kondisi jiwa pun turut menderita. Terdapat tiga dampak psikologis utama yang muncul akibat gaya hidup kurang gerak ini.

    Pertama, rendahnya aktivitas fisik menyebabkan penurunan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein yang berperan penting dalam pertumbuhan sel saraf. Penurunan kadar BDNF ini berkorelasi erat dengan munculnya gejala depresi dan kecemasan berlebih.

    Kedua, individu dengan tingkat kebugaran yang rendah cenderung memiliki ambang batas toleransi stres yang sempit. Jantung yang tidak terlatih akan berdetak lebih cepat saat menghadapi tekanan psikologis, sehingga memicu respons panik yang jauh lebih intens.

    Ketiga, ketidakbugaran fisik sering kali bermanifestasi pada ketidakpuasan terhadap citra tubuh (body dissatisfaction). Dalam lingkungan sosial yang sangat visual, kondisi ini dapat menggerus harga diri (self-esteem), menciptakan pribadi yang tidak percaya diri, serta membuat seseorang menjadi rentan secara sosial.

    “Ketika tubuh mengalami defisit gerak, jiwa akan menderita,” tegas perempuan kelahiran Manado tersebut.

    Sebagai langkah preventif untuk mencegah penyakit hipokinetik ini, ia mendorong masyarakat untuk mulai mengintegrasikan aktivitas fisik ringan ke dalam rutinitas harian sebagai ‘apotek alami.’ Misalnya, dengan membiasakan jalan kaki ketimbang berkendara untuk keperluan jarak dekat di sekitar rumah.

    Lebih memilih berjalan kaki saat pergi ke warung, pasar tradisional, maupun rumah ibadah. Aktivitas ringan seperti ini, bukan hanya membantu membakar kalori, tetapi juga memberikan kesempatan bagi paru-paru dan jantung untuk bekerja lebih optimal secara alami.

    Selain itu, bagi yang banyak menghabiskan waktu di depan komputer, disarankan untuk melakukan peregangan statis (stretching) setiap dua jam sekali guna melemaskan otot yang kaku. Aktivitas tambahan seperti menggunakan tangga alih-alih lift, berkebun, atau melakukan senam aerobik ringan di rumah juga sangat membantu memicu produksi hormon endorfin.

    Dengan mengembalikan hak tubuh untuk bergerak, mulai dari langkah-langkah kecil di lingkungan rumah, bukan hanya kebugaran fisik yang terjaga, tetapi juga kesehatan mental yang lebih stabil dan tangguh. (her)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru