Surabaya 7 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah riuh pembangunan kota dan menjulangnya gedung-gedung baru, ada satu pertanyaan yang kerap luput diajukan: untuk siapa sebenarnya kota ini dibangun? Bagi generasi muda—khususnya Gen Z—kota sering kali hadir bukan sebagai ruang hidup, melainkan sekadar ruang kerja. Mereka berkontribusi, menghidupkan ekonomi, dan menjadi motor produktivitas, tetapi justru tersingkir dari akses paling mendasar: memiliki tempat tinggal di kota tempat mereka berkarya.
Harga properti yang terus melambung telah menciptakan jarak yang kian lebar antara generasi muda dan kepemilikan rumah. Bagi banyak pasangan muda di Surabaya, memiliki hunian bukan lagi soal menabung dan merencanakan masa depan, melainkan soal apakah mimpi itu masih realistis untuk dikejar. Di titik inilah, kota diuji—bukan oleh seberapa megah infrastrukturnya, tetapi oleh seberapa adil ia memberi ruang bagi warganya untuk tinggal, tumbuh, dan bermimpi.
Hadirnya program rusunami dengan harga terjangkau bagi Gen Z menjadi menarik bukan semata karena angkanya yang “ramah”, tetapi karena ia membawa pesan yang lebih dalam: bahwa kota tidak boleh hanya menjadi arena kompetisi, melainkan juga ruang harapan. Kebijakan ini membuka kemungkinan baru—bahwa di tengah keterbatasan lahan dan tekanan ekonomi, masih ada jalan untuk menghadirkan kota yang lebih inklusif, lebih manusiawi, dan lebih berkelanjutan.
Masalah hunian di kota besar seperti Surabaya bukan lagi persoalan individual, melainkan persoalan struktural. Antrean panjang rusunawa yang mencapai puluhan ribu kepala keluarga menjadi sinyal nyata bahwa kebutuhan tempat tinggal layak jauh melampaui ketersediaan. Di sisi lain, generasi muda—terutama pasangan muda—berada dalam posisi paling rentan. Mereka berada pada fase membangun keluarga dan karier, tetapi berhadapan dengan harga properti yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan mereka.
Dalam konteks ini, kehadiran kebijakan rusunami dengan harga terjangkau menjadi relevan sekaligus strategis. Ia bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan intervensi terhadap ketimpangan akses. Program ini membuka peluang bagi kelompok yang selama ini “terjepit”: terlalu mampu untuk sekadar menyewa seumur hidup, tetapi terlalu tidak mampu untuk membeli rumah di pasar komersial.
Lebih dari itu, kebijakan ini menemukan maknanya ketika dihubungkan dengan visi besar Eri Cahyadi, Walikota Surabaya dalam membangun Surabaya sebagai kota global, modern, humanis, dan berkelanjutan. Sebab kota global yang sejati bukan hanya tentang investasi dan infrastruktur, tetapi tentang kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial. Tanpa itu, kota hanya akan menjadi ruang eksklusif bagi segelintir orang, sementara mayoritas warganya tersingkir ke pinggiran—baik secara geografis maupun sosial.
Di titik ini, rusunami menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa modernitas kota tidak berjalan tanpa arah. Model hunian vertikal menjawab keterbatasan lahan, sekaligus menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap ruang kota. Namun yang lebih penting, ia menjadi jembatan bagi mobilitas sosial. Ketika dikaitkan dengan program “Satu Rumah Satu Sarjana” dan upaya pengentasan kemiskinan, terlihat jelas bahwa yang sedang dibangun bukan hanya unit hunian, tetapi sebuah ekosistem naik kelas: dari keluarga berpenghasilan rendah, menuju pendidikan tinggi, pekerjaan layak, hingga kepemilikan aset.
Inilah yang membuat kebijakan ini memiliki dimensi keberlanjutan. Kota tidak hanya mengatasi masalah hari ini, tetapi juga merancang masa depan warganya. Ada siklus yang dibangun: keluarga miskin difasilitasi melalui rusunawa, anak-anaknya didorong mengakses pendidikan, dan ketika mereka telah mapan, rusunami menjadi pintu masuk kepemilikan rumah pertama. Dengan demikian, ruang-ruang hunian tidak stagnan, melainkan terus bergerak mengikuti dinamika sosial ekonomi masyarakat.
Namun demikian, optimisme ini tetap perlu diiringi dengan kewaspadaan. Tantangan terbesar dari kebijakan seperti ini bukan pada gagasannya, melainkan pada skalanya. Jika kebutuhan riil mencapai puluhan bahkan ratusan ribu unit, maka pembangunan harus dilakukan secara masif dan konsisten. Selain itu, aspek lokasi, konektivitas transportasi, serta ketepatan sasaran menjadi faktor krusial. Tanpa itu, rusunami berisiko menjadi solusi parsial—hadir sebagai simbol, tetapi belum mampu menjawab akar persoalan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota tidak terletak pada seberapa tinggi bangunannya atau seberapa besar investasinya, tetapi pada seberapa besar ia mampu memastikan setiap warganya memiliki tempat di dalamnya. Kota yang besar adalah kota yang tidak membuat generasi mudanya merasa asing di tanah yang mereka hidupi.
Rusunami untuk Gen Z membawa harapan bahwa Surabaya sedang bergerak ke arah itu—menjadi kota yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara sosial. Sebuah kota yang memahami bahwa rumah bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan fondasi bagi martabat, stabilitas, dan masa depan warganya.
Jika dijalankan dengan konsisten dan diperluas secara sistematis, kebijakan ini dapat menjadi lebih dari sekadar program perumahan. Ia bisa menjadi penanda arah baru pembangunan kota: dari yang semula berorientasi pada pertumbuhan, menjadi berorientasi pada keadilan.
Dan di situlah makna sesungguhnya dari kota global yang humanis dan berkelanjutan—bukan kota yang hanya layak dikunjungi, tetapi kota yang layak ditinggali, oleh semua.
Surabaya, 7 April 2026
M.Isa Ansori
Kolumnis, Pengajar Psikologi Komunikasi dan Transaksional Analisis, Wakil Ketua ICMI Jatim, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya
