Surabaya 8 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghadirkan rumah susun sederhana milik (rusunami) bagi generasi muda sebagai jawaban atas kebutuhan hunian yang kian meningkat, bukan sekadar proyek perumahan, melainkan langkah konkret menuju kota yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Di tengah geliat pembangunan dan komitmen menuju kota global, Surabaya terus berupaya memastikan generasi mudanya tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang di kota sendiri, sekaligus menghadirkan solusi nyata dalam memperluas akses kepemilikan hunian yang terjangkau.
“Bagi generasi muda, kota sering kali hanya menjadi ruang kerja, bukan ruang hidup. Mereka menggerakkan ekonomi, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mengakses hunian yang layak,” ujar Pengajar Psikologi Komunikasi dan Transaksional Analisis, M. Isa Ansori, Rabu (8/4/2026).
Fenomena ini menjadi perhatian di banyak kota besar, termasuk Surabaya, seiring meningkatnya kebutuhan hunian yang layak dan terjangkau. Di sisi lain, pasangan muda berada pada fase penting membangun kehidupan dan kemandirian, sehingga dukungan akses hunian menjadi bagian krusial dalam mendorong stabilitas sosial dan ekonomi.
Dalam konteks tersebut, rusunami untuk Gen Z hadir sebagai langkah strategis yang tidak hanya menawarkan solusi ekonomis, tetapi juga memperkuat komitmen Kota Surabaya dalam membangun kehidupan urban yang lebih layak huni. “Kebijakan ini membuka peluang bahwa di tengah keterbatasan lahan dan dinamika ekonomi, Surabaya tetap mampu menghadirkan hunian yang inklusif,” katanya.
Langkah ini sekaligus memperkuat arah pembangunan Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan akses sebagai fondasi menuju kota global.
Rusunami, dalam kerangka tersebut, tidak hanya menjawab kebutuhan hunian melalui konsep vertikal yang efisien, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pembangunan manusia. Ketika terintegrasi dengan program pendidikan dan pengentasan kemiskinan, hunian menjadi pintu masuk bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Ada siklus yang dibangun. Dari rusunawa untuk masyarakat berpenghasilan rendah, akses pendidikan bagi anak-anaknya, hingga rusunami sebagai langkah awal kepemilikan hunian saat mereka telah mapan. Ini bukan hanya membangun rumah, tetapi membangun masa depan,” tegasnya.
Dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang berkelanjutan, program ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat serta menjawab kebutuhan hunian secara bertahap. Dukungan terhadap aspek lokasi, konektivitas, dan ketepatan sasaran menjadi kunci agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
Pada akhirnya, keberhasilan Surabaya sebagai kota global tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan ruang hidup yang layak bagi seluruh warganya. Rusunami untuk Gen Z menjadi penanda arah pembangunan yang semakin inklusif, bahwa kemajuan kota berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakatnya.
“Jika dijalankan secara konsisten, program ini berpotensi menjadi fondasi transformasi pembangunan kota, menguatkan arah dari sekadar pertumbuhan menuju pemerataan. Dari sanalah, Surabaya menegaskan dirinya sebagai kota global yang tidak hanya layak dikunjungi, tetapi juga layak ditinggali oleh semua,” pungkasnya. (bri)
