Surabaya 3 Maret 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bukan semata peristiwa geopolitik, melainkan juga simbol rapuhnya penghormatan dunia terhadap nilai agama dan ilmu pengetahuan.
Menurut senator yang akrab disapa Ning Lia itu, ketika seorang tokoh yang memiliki otoritas keagamaan sekaligus pengaruh intelektual dalam struktur kenegaraan menjadi sasaran pembunuhan, maka yang muncul bukan hanya eskalasi politik, tetapi juga pesan buruk bagi peradaban.
“Pembunuhan Khamenei tidak bisa hanya dibaca sebagai konflik kekuasaan. Ini juga simbol pelemahan agama dan ilmu, ketika tokoh dengan legitimasi keagamaan dan pengaruh pemikiran justru dihabisi dalam pusaran perang,” ujar Lia.
Ia menilai, dunia saat ini semakin sering menyaksikan konflik diselesaikan dengan kekuatan militer, bukan dialog, diplomasi, atau penghormatan terhadap martabat manusia. Dalam situasi seperti itu, kata dia, ruang moral makin menyempit, sementara kekerasan justru mendapat panggung yang semakin luas.
Bagi Lia, siapa pun dapat memiliki pandangan politik yang berbeda terhadap sosok Khamenei. Namun, ia mengingatkan bahwa pembunuhan terhadap pemimpin agama tetap memunculkan guncangan besar, bukan hanya bagi negara yang bersangkutan, tetapi juga bagi persepsi global tentang keselamatan tokoh agama, ulama, dan pemegang otoritas moral.
“Kalau tokoh agama sekaliber itu bisa diakhiri dengan cara seperti ini, maka dunia sedang memberi sinyal bahwa kekuatan senjata lebih dominan daripada kekuatan akal, ilmu, dan kebijaksanaan,” tegasnya.
Lia menambahkan, konflik yang terus meluas di Timur Tengah seharusnya menjadi pelajaran bagi komunitas internasional bahwa stabilitas tidak pernah lahir dari pembunuhan politik. Sebaliknya, kekerasan semacam itu justru berpotensi melahirkan trauma kolektif, balas dendam berkepanjangan, dan ketidakpastian global.
Ia juga menyoroti bahwa figur seperti Khamenei, terlepas dari kontroversi politik yang melekat padanya, tetap dipandang oleh banyak kalangan sebagai representasi otoritas keagamaan. Karena itu, kematiannya melalui serangan militer akan dibaca luas sebagai pukulan simbolik terhadap wibawa agama di tengah konflik modern.
“Ketika agama tidak lagi ditempatkan sebagai sumber hikmah, dan ilmu tidak lagi dijadikan dasar penyelesaian, maka yang menang adalah kekerasan. Itu yang berbahaya bagi masa depan peradaban,” katanya.
Lia berharap komunitas internasional menahan diri dan tidak menjadikan kematian Khamenei sebagai pintu masuk bagi eskalasi yang lebih besar. Menurut dia, dunia membutuhkan pemulihan akal sehat, bukan perluasan medan perang.
“Jangan sampai tragedi ini hanya menambah daftar panjang kemanusiaan yang kalah oleh ambisi geopolitik. Dunia harus kembali pada dialog, etika, dan penghormatan terhadap nilai-nilai peradaban,” pungkasnya.(her)
