More
    BerandaUncategorizedSuperbia: O Karya Alumnus FIB UNAIR Juarai Sayembara Novel Dewan kesenian Jakarta

    Superbia: O Karya Alumnus FIB UNAIR Juarai Sayembara Novel Dewan kesenian Jakarta

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 10 Nopember 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Alumnus Universitas Airlangga (UNAIR) kembali buktikan kemampuannya di bidang sastra. Lulusan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fajar Satriyo, berhasil menjuarai Sayembara Manuskrip Novel Dewan kesenian Jakarta (DKJ) 2025 pada Rabu (5/11/2025).

    Fajar yang berprofesi sebagai jurnalis di Kantor Berita Nasional ANTARA itu tidak menyangka bisa meraih penghargaan ini. “Tahun ini menjadi tahun terbanyak manuskrip novel yang masuk di DKJ sejauh 51 tahun penyelenggaraan. Dengan total 792 manuskrip. Saya sendiri tidak berekspektasi juga sampai sejauh ini,” katanya.

    Ciptakan Fantasi Dunia Utopis

    Terinspirasi dari novel George Orwell 1984, Fajar berusaha menciptakan dunia utopis berlatar tahun 2034. Karya tersebut berjudul Superbia: O yang mengangkat isu penyensoran. Judul tersebut diambil dari bahasa latin, superbia yang berarti tujuh dosa manusia. Sementara itu, “O” menggambarkan infinity, artinya menggambarkan tujuh dosa manusia yang terus berulang.

    Di novel tersebut, ia menceritakan bahwa pada zaman itu terdapat sebuah penerbit bernama Anjing Lautyang berusaha menerbitkan kembali kumpulan novel-novel yang sempat diberangus. Namun, dokumennya tidak ditemukan secara utuh. Akhirnya, penerbit tersebut menjadikannya sebagai naskah sejarah dengan sejumlah catatan di zaman pembredelan tahun 2024.

    Adanya pemberedelan tersebut diceritakan karena pada zaman itu terdapat sebuah institusi bernamaGerakan Melek Kiri. Gerakan tersebut melakukan pemberedelan terhadap sejumlah paham dan ideologi-ideologi kiri. Terutama pada karya sastra, seni lukis, dan karya seni lainnya, termasuk naskah novel Superbia: O.

    Di novel ini, Fajar berusaha menciptakan sebuah institusi yang menggambarkan hal tersebut. “Karena kalau kita bicara di masa Orde Baru, itu ada menteri penerangan. Saya pun mengangkat isu-isu tersebut dalam bentuk dokumen-dokumen sejarah. Jadi, pemberedelan dan censorship itu ternyata masih masif,” paparnya.

    Proses Berkarya

    Kemudian, penulis asal Banyuwangi tersebut menjelaskan bahwa dalam pembuatannya, Superbia: O memakan proses panjang, kurang lebih sekitar lima tahun. Pasalnya, ia harus berhadapan dengan tantangan pada pencarian bentuk naratif yang sulit dalam pengumpulan sumber bacaan.

    “Yang lama adalah menentukan bentuk naratif novelnya. Mungkin, untuk pembaca awal, novel ini akan terasa membingungkan. Karena saya mencoba menyajikan eksperimental dengan mengadopsi bentuk bahwasanya ini adalah novel arkeologis dari kumpulan artefak sejarah,” imbuhnya. Fajar berpesan bahwa dalam menulis, hindari terlalu memikirkan bentuk akhir. Hal yang utama adalah menyelesaikan tulisan, baru menentukan arah. “Karena menulis itu selain butuh keterampilan, yang paling utama justru malah ketekunan. Banyak orang yang bisa menulis, tapi kenapa orang tidak banyak menghasilkan buku? Karena kebanyakan orang baru setengah menulis, capek, berhenti. Ibarat lari, novel itu marathon, bukan lari sprint,” pungkasnya.(naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru