More
    BerandaUncategorizedSurabaya Maritime Arts Dome: Bentangan Rumah Peradaban Surabaya, Mimpi itu lahir sederhana

    Surabaya Maritime Arts Dome: Bentangan Rumah Peradaban Surabaya, Mimpi itu lahir sederhana

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 15 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Suatu sore, Minggu, 15 Februari 2026, Pasca selesai mengantarkan perhelatan Musyawarah Kebudayaan Surabaya, saya mencoba memanfaatkan waktu senggang sore dengan menyusuri suasana pantai dari Suramadu sampai dengan Keputih. Mengaspal di pinggir pantai—dari Tambak Wedi, melewati Jalan Kedung Cowek, Sukolilo, melintas di sekitar Jembatan Suroboyo, hingga Keputih.

    Sepanjang perjalanan itu, laut terbentang tanpa sekat. Angin asin menyentuh wajah. Perahu-perahu nelayan terikat tenang, seakan menunggu pagi.

    Di tengah perjalanan itu, muncul satu pertanyaan yang mengusik: Bukankah bentangan pantai ini adalah karunia Tuhan yang layak disyukuri? Dan jika ia karunia, mengapa kita hanya memaknainya sebagai ruang ekonomi—tempat orang mencari ikan—dan belum sepenuhnya sebagai ruang peradaban?

    Laut tentu harus tetap menjadi ruang hidup nelayan. Tetapi apakah ia tidak juga layak menjadi ruang hidup kebudayaan?

    Di sanalah imajinasi saya melompat jauh, menyeberang samudra, menuju sebuah bangunan di Australia: Sydney Opera House. Sebuah gedung yang berdiri anggun di tepi pelabuhan, menjadi ikon bukan hanya kota, tetapi bangsa. Ia bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan simbol keberanian membangun peradaban melalui seni.

    Lalu saya kembali menatap Laut Jawa.

    Surabaya adalah kota maritim. Ia dikaruniai pesisir yang indah, sejarah pelabuhan yang panjang, dan denyut budaya pesisir yang hidup. Namun kita harus jujur: potensi itu belum sepenuhnya dijadikan fondasi penguatan peradaban maritim. Laut sering menjadi latar belakang, belum menjadi pusat kesadaran. Dari perenungan itulah lahir gagasan tentang Surabaya Maritime Arts Dome.

    Kenjeran–Suramadu: Dari Bentangan Alam ke Bentangan Peradaban

    Jika perjalanan pesisir itu diteruskan hingga menghadap Jembatan Suramadu, kita melihat simbol kemajuan infrastruktur. Jembatan Suramadu, jembatan fisik yang menyatukan Surabaya dan Madura.

    Kota global tidak cukup hanya dengan jembatan fisik. Ia membutuhkan jembatan kultural.

    Surabaya Maritime Arts Dome dapat berdiri sebagai jembatan makna—menghubungkan pesisir dan pusat kota, tradisi dan modernitas, nelayan dan akademisi, seni rakyat dan panggung dunia.

    Memilih bentang Kenjeran–Suramadu bukan keputusan teknis semata. Ia adalah pilihan filosofis. Bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat pada kawasan bisnis. Bahwa pesisir—yang sering dipandang pinggiran—berhak menjadi pusat peradaban.

    Pembangunan sejati bukan hanya memperindah pusat, tetapi memuliakan tepi.

    Membangun Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur

    Kita terlalu lama mengukur kemajuan dengan beton. Jalan bertambah, gedung menjulang, angka pertumbuhan dirayakan. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah manusia kita ikut bertumbuh? Peradaban tidak diukur dari tinggi bangunan, melainkan dari kedalaman kesadaran.

    Surabaya Maritime Arts Dome harus menjadi ruang di mana seni, riset, dan refleksi bertemu. Ia bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi sekolah karakter. Bukan hanya destinasi wisata, tetapi laboratorium kemanusiaan.

    Di sanalah anak nelayan dapat bermimpi setinggi cakrawala tanpa kehilangan identitasnya.
    Di sanalah tradisi Madura dan dinamika urban Surabaya berdialog setara.

    Di sanalah ekonomi kreatif tumbuh berdampingan dengan nilai keberlanjutan.

    Inilah pembangunan humanis: membangun manusia beradab.

    Selaras dengan Visi Kota Global, Modern, Humanis, dan Berkelanjutan

    Gagasan ini bukan mimpi yang terlepas dari arah pembangunan kota. Ia justru sejalan dengan visi Surabaya sebagai kota global, modern, humanis, dan berkelanjutan.

    Global—karena membuka dialog budaya lintas bangsa.

    Modern—karena berbasis inovasi dan arsitektur masa depan.

    Humanis—karena membangun manusia, bukan sekadar struktur.

    Berkelanjutan—karena menghormati laut sebagai ekosistem dan ruang kehidupan.

    Surabaya tidak hanya ingin dikenal sebagai kota transaksi. Ia ingin dikenal sebagai kota makna.

    Dari Mimpi Warga, Menuju Warisan Peradaban

    Pada akhirnya, Surabaya Maritime Arts Dome bukan tentang kubah. Bukan tentang kemegahan arsitektur.
    Bukan pula tentang menandingi Sydney Opera House.

    Ia tentang kesadaran. Kesadaran bahwa kota tidak cukup hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi harus matang secara kultural.

    Kesadaran bahwa laut bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi ruang makna.

    Kesadaran bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan manusia.

    Mimpi ini lahir bukan dari ruang rapat, melainkan dari perjalanan sunyi menyusuri pesisir—dari desir angin laut dan cakrawala yang terbuka. Ia lahir dari rasa syukur atas karunia Tuhan yang begitu indah, sekaligus kegelisahan: apakah kita sudah memuliakan karunia itu sebagai fondasi peradaban?

    Surabaya tidak kekurangan gedung. Yang kita butuhkan adalah simbol jiwa. Jika suatu hari kubah itu benar-benar berdiri menghadap Jembatan Suramadu, ia bukan sekadar bangunan. Ia adalah pesan lintas generasi: bahwa pernah ada keberanian untuk membangun bukan hanya kota, tetapi karakter.

    Karena kota besar lahir bukan hanya dari pemimpin yang visioner, tetapi dari warga yang mencintainya dengan pikiran dan nurani.

    Dan setiap peradaban besar selalu dimulai dari satu mimpi yang sederhana— mimpi yang dibangun dengan cinta pada tanahnya sendiri.

    Surabaya, 15 Februari 2026

    M. Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi, Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua ICMI Jatim, Warga Majelis Ngopi Suroboyo

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru