Surabaya 13 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah dinamika ekonomi global, negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tantangan berat untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap). Indonesia membutuhkan transformasi fundamental dari pertumbuhan yang hanya mengandalkan akumulasi modal menuju pertumbuhan berbasis inovasi. Itulah yang disampaikan oleh Prof Dr Unggul Heriqbaldi SE MSi PGradDip EC MAppEc, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR. Ia mengungkap kajian tersebut dalam sebuah orasi ilmiah yang ia sampaikan dalam pengukuhannya sebagai guru besar.
Bertempat di Aula Garuda Mukti, Lt 5 Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, pakar ekonomi global tersebut secara resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Perdagangan dan Moneter Internasional. Dalam orasinya, ia memotret fenomena investment–output decoupling di mana investasi tumbuh signifikan namun pertumbuhan ekonomi relatif stagnan. Hal ini menandakan berakhirnya efektivitas strategi pertumbuhan yang hanya mengandalkan akumulasi modal tanpa dibarengi produktivitas.
“Data global menunjukkan bahwa dunia tidak lagi bergerak menuju konvergensi pendapatan. Di Indonesia sendiri, selama dua dekade terakhir rasio investasi terhadap PDB mencapai sekitar 30 persen, namun pertumbuhan ekonomi tertahan di kisaran 5 persen. Setiap tambahan investasi menghasilkan output yang semakin kecil akibat alokasi ke sektor berproduktivitas rendah, lemahnya ekosistem riset, serta inefisiensi kelembagaan,” jelasnya.
Pertumbuhan Berbasis Inovasi
Dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu, pergeseran menuju innovation-led growth menjadi pijakan strategis untuk menghindari jebakan pendapatan menengah. Prof Unggul menekankan pentingnya konsep creative destruction di mana ide baru secara terus-menerus menggantikan teknologi lama. Namun, ia mengingatkan bahwa inovasi membutuhkan ekosistem yang mendukung, bukan sekadar proses teknis di laboratorium.
“Negara unggul bukan karena sumber daya alamnya, tetapi karena kemampuannya mengonversi pengetahuan menjadi nilai tambah ekonomi. Inovasi dan difusi pengetahuan adalah jantung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Di sini pemerintah harus berperan sebagai enabler. Memberikan insentif dan perlindungan hak kekayaan intelektual yang seimbang dengan persaingan pasar yang sehat,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Meski hilirisasi sumber daya alam seperti nikel menjadi momentum penting, Prof Unggul tak menampik adanya tantangan besar dalam pelaksanaannya. “Hilirisasi terbukti meningkatkan nilai ekspor, namun tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi. Tantangannya adalah memastikan hilirisasi menghasilkan knowledge spillover, alih teknologi, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar tidak terjebak pada kapasitas produksi berkompleksitas rendah,” tuturnya.
Strategi Transformasi 3i
Menjawab tantangan tersebut, Prof Unggul menawarkan strategi transformasi berbasis 3i yakni Investment, Infusion of Technology, dan Innovation. “Investasi tetap penting, tetapi harus mengarah pada sektor yang menciptakan limpahan pengetahuan. Infusi teknologi melalui perdagangan harus dibarengi penguatan absorptive capacity domestik, dan inovasi harus menjadi motor penciptaan nilai tambah,” pesannya.
Sebagai penutup, ia kembali menegaskan bahwa masa depan Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi sangat bergantung pada keberanian memperbarui ide. “Pertumbuhan ekonomi sejati bukan tentang menumpuk kapital. Tetapi tentang kemampuan suatu bangsa menciptakan, menyebarkan, dan mengimplementasikan pengetahuan untuk membangun kesejahteraan yang berkelanjutan,” pungkasnya.(naf)
