Surabaya 6 Desember 2025 | Draft Rakyat Newsroom – Kolaborasi Mahasiswa lintas Program Studi (PRODI) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan kualitasnya di ajang Lomba Inovasi dan Digital Mahasiswa (LIDM) yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) secara hybrid dengan tahap final di Universitas PGRI Adi Buana pada (1-3/12/2025).
Tim Radju yang terdiri dari Mohammad Pradana Setyawan (FV), Naufal Aulia (FTMM), Davina W Aura Febritalianti (FV), Alfiyatul Khoiriyah (FTMM) berhasil meraih Juara 1 kompetisi LIDM dengan judul “RADVent: Aplikasi Augmented Reality Terintegrasi NeuroTag Scan untuk Eksplorasi Modalitas, Posisi Pasien, dan Literasi Klinis Guna Meningkatkan Kompetensi Calon Radiografer.”
Pradana mengungkapkan jika idenya muncul dari tingginya biaya peralatan laboratorium radiologi yang sulit dijangkau sebagian institusi pendidikan. Tidak hanya itu, bahaya paparan radiasi terhadap mahasiswa saat melakukan praktik menggunakan alat radiologi juga mendorong timnya untuk mengembangkan inovasi ini. “Dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR) dan NeuroTag Scan, mahasiswa dapat belajar tanpa bergantung pada alat fisik yang mahal dan berisiko,” ujar Pradana.
Persiapan dimulai dengan seleksi dari fakultas hingga terpilih menjadi kontingen UNAIR. Aulia mengaku tidak menargetkan juara, ia hanya menyelesaikan kompetisi dengan sebaik mungkin. Untuk mematangkan persiapan, Tim Radju melakukan bimbingan dengan dosen ahli dan mempelajari dari pemenang tahun sebelumnya.
“Menurut saya, keterampilan yang paling penting adalah kemampuan berpikir kritis, kreativitas dalam merancang solusi, serta manajemen waktu agar semua tahap persiapan dan presentasi berjalan lancar,” tegas Aulia.
Lebih lanjut, Alfiyatul menjelaskan tantangan dalam menyelesaikan kompetisi adalah keterbatasan waktu dalam menyelesaikan prototype yang cukup kompleks dan penyesuaian materi agar mudah dipahami oleh juri non-radiologi. “Kami berhasil mengatasinya dengan membuat timeline harian, memprioritaskan fitur yang paling penting, dan meminta masukan dari beberapa orang untuk memastikan penjelasan kami dapat dipahami oleh audiens umum,” tambah Alfiyatul.
Mahalnya fasilitas laboratorium dan risiko radiasi, mendorong tim Rajdu untuk menghadirkan solusi inovatif. Davina menuturkan keinginan untuk menantang diri sendiri keluar dari zona nyaman serta memperluas pengalaman dalam bidang inovasi digital. Tidak hanya itu, ia juga menjadikan proses kompetisi sebagai kesempatan belajar dan mengembangkan diri.
“Hal paling penting adalah memahami nilai dari karya yang kita bawa apakah benar-benar memberikan dampak. Selain itu, kesiapan mental, dan kemampuan presentasi juga harus sangat diperhatikan,” tambah Davina.
Sebagai penutup, Pradana selaku ketua tim menitipkan pesan kepada mahasiswa UNAIR untuk tidak takut mencoba hal baru. Menurutnya, setiap langkah kecil dapat membuka peluang besar untuk orang lain. “Mulailah dari mencoba, karena keberanian untuk memulai adalah separuh dari keberhasilan. Jangan menunggu siap karena kesiapan sebenarnya terbentuk dari proses itu sendiri,” pungkas Pradana. (far)
