Surabaya 12 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pada era modernisasi farmasi, Indonesia terus merawat warisan budaya bangsa melalui ramuan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Berdasarkan hal tersebut, Guru Besar Bidang Ilmu Toxicology, Aktivitas Enzim Antioksidan Endogen Hewan Coba Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Sugiharto SSi MSi ungkapkan orasi ilmiahnya.
Gagasan tersebut ia sampaikan dalam Pengukuhan Guru Besar yang diselenggarakan di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen, Kampus MERR-C UNAIR pada Kamis (12/2/2026). Dalam orasinya, ia memotret potensi besar tanaman lokal seperti temu giring, temu kunci, jahe merah, temulawak, hingga sambung nyawa terbukti mampu menstimulasi peningkatan enzim antioksidan endogen. Lebih jauh, senyawa aktifnya juga berpotensi sebagai anti-kanker dan anti-bakteri.
“Kesimpulan dari data penelitian kami telah membuktikan bahwa beberapa ekstrak tanaman lokal banyak yang mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan curcuminoid sehingga berpotensi sebagai antioksidan, menurunkan kadar MDA, menstimulasi peningkatan kadar enzim antioksidan SOD dan CAT, meningkatkan ekspresi gen SOD-1 dan CAT, serta mengurangi kerusakan sel hepar mencit yang mengalami stres oksidatif akibat paparan logam berat Pb dan Cd,” jelasnya.
Saintifikasi Jamu
Dengan pangsa pasar global obat herbal organik yang diproyeksikan mencapai USD 24,5 miliar pada 2030, pencapaian riset ini menjadi pijakan strategis di tengah euforia penetapan jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO sejak 2023. Namun, Prof Sugiharto mengingatkan bahwa status jamu masih memerlukan pembuktian ilmiah karena masih berada pada level terbawah dalam klasifikasi Obat Bahan Alam (OBA) versi BPOM.
“Saintifikasi jamu merupakan proses pembuktian ilmiah, dimulai dengan uji in vitro, in vivo, hingga uji klinis untuk menjawab keraguan kita semua terhadap pengobatan tradisional. Sehingga peluang untuk meningkatkan status jamu menjadi obat herbal terstandar bahkan fitofarmaka akan lebih terbuka lebar. Harapannya, dapat mendukung proses kemandirian obat nasional,” ujarnya.
Meski potensi riset memiliki hasil menjanjikan, Prof Sugiharto tak menampik adanya tantangan sistemik. “Spesies tanaman obat di habitat asalnya menghadapi ancaman deforestasi hingga bencana alam. Di tingkat laboratorium, harus ada proses standardisasi ekstrak jika ingin menjadikan OBA hingga kebutuhan biaya yang tinggi,” tuturnya.
Sinergi Menyeluruh
Menjawab tantangan tersebut, Prof Sugiharto menawarkan pendekatan holistik melalui sinergi antar pemangku kebijakan. “Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan tindakan dari hulu ke hilir, sebab dibutuhkan sinergi antara akademisi, petani, industri farmasi, dan pemerintah,” pesannya. Sebagai penutup, ia kembali menegaskan bahwa alam Indonesia adalah laboratorium raksasa yang “belum kita baca” sepenuhnya. “Eksplorasi tanaman lokal, bahkan mungkin sering kita anggap sebagai tanaman liar di halaman rumah kita, di masa depan akan menjadi kunci bagi penyembuhan penyakit kronis dan akan menjadi tulang punggung kemandirian obat nasional,” pungkasnya. (naf)
