More
    BerandaUncategorizedYayasan Nawadya Cita Nusantara Senyelenggarakan Diklat Rumat Sumber

    Yayasan Nawadya Cita Nusantara Senyelenggarakan Diklat Rumat Sumber

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Batu 13 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom –Mencegah banjir bandang di kawasan hulu sungai Brantas, Yayasan Nawadya Cita Nusantara menyelenggarakan Diklat Rumat Sumber bertema “Menjaga air merawat budaya”. Diklat diikuti sebanyak kader rumat sumber dari Desa Bulukerto dan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu pada Sabtu-Ahad, 11-12 April 2026. Peserta terdiri atas lembaga adat desa, kelompok tani hutan, juru pelihara sumber dan tokoh masyarakat kedua desa.

    “Ada folklore yang berkembang secara turun temurun, banjir serupa terjadi 100 tahun lalu,” kata Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan.

    Untuk itu, mereka berkolaborasi multipihak untuk melakukan usaha menanam pohon untuk merawat sumber mata air. Sekaligus mencegah banjir tak kembali melanda desanya. Lima tahun lalu, banjir bandang menerjang Desa Bulukerto tujuh nyawa melayang. Penyebabnya terjadi alih fungsi hutan lindung menjadi kebun sayur mayur.

    Kini, para petani hutan mulai beralih menanam tanaman keras seperti kopi dan alpukat. Bulukerto juga akan menyelenggarakan Festival Mata Air di Umbul Gemulo pada 19 dan 23 April 2026. Diawali dengan gugur gunung membersihan sumber mata air Umbul Gemulo dan metri sumber atau selamatan sumber dilanjut diskusi ekologi.

    Sedangkan Lembaga Adat Desa Bulukerto juga merawat sumber dengan pendekatan budaya. Melestarikan budaya Jawa melalui budaya tutur yang diwariskan secara turun temurun. Salah satunya dengan menjaga sumber Belik Sumo yang menjadi salah satu sumber arkais di desanya.

    “Secara turun temurun diwariskan membaca tanda-tanda alam dalam pertanian dengan teknologi pranata mangsa. Pengetahuan ini perlu dilestarikan, jangan ditinggalkan,” ujarnya.

    Salah satu narasumber, Ketua Kaliku Lestari Nusantara, Sugeng Widodo menyatakan aneh dataran tinggi di Batu diterjang banjir bandang. Untuk itu, ia mengajak kolaborasi warga setempat untuk kembali menanam pohon di kawasan tangkapan air. “Mengembalikan nyawa air dengan menanam pohon. Menjaga warisan leluhur,” ujarnya.

    Ia bakal menyediakan bibit pohon sesuai kebutuhan. Terutama mengembalikan hutan lindung yang beralih fungsi menjadi kebun sayur. Dampaknya tak hanya banjir bandang, sejumlah sumber mata air menyusut dan sebagian mati. Dampaknya tak hanya di Batu, air dari lereng Gunung Arjuno juga mengaliri 14 desa se Jawa Timur melalui Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

    Kota Batu rusak, katanya, akibat alih fungsi lahan dengan menjamur hotel, permukiman dan tempat wisata. Sehingga suhu udara semakin panas dan menyebabkan ancaman pemanasan global. Sehingga perlu dicegah dan diminimalisir dampak buruknya.

    “Perlu bergotong-royong menanam, dan merawat pohon,” katanya. Setelah ditanam, katanya, perlu dirawat dan diawasi. Agar tetap terjaga, tumbuh dan tak mati. Secara toponimi, Bulukerto merupakan kawasan yang dipenuhi pohon bulu (Ficus drupacea/ annulata). Keluarga pohon beringin yang seringkali tumbuh di area irigasi. Memiliki peran bagi habitat dan sumber pakan aneka satwa.

    “Nanti ada pengadaan bibit, sebagai tetenger. Pohon bulu bukan rumah memedi. Pohon bulu memiliki fungsi antioksidan, untuk obat luka,” ujarnya. Lembaga adat seperti di Desa Ngadas, Poncokusumo memiliki aturan jika ada warga yang menebang pohon wajib selamatan, menanam dan merawat 26 pohon. Sehingga lembaga ada juga berperan penting dalam menjaga konservasi hutan.
    “Mengembalikan seperti 50 tahun lalu sulit. Meminimal bisa meminimalisir dampak,” katanya.

    Ariyono dari lembaga adat Bulukerto menjelaskan jika 40 tahun lalu, warga antre mengambil air dari Sumber Belik Sumo untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka rela antre hingga 20 orang, Kini, setelah jaringan pipa air minum terhubung ke rumah warga jarang menyambanginya.

    “Sumber Belik Sumo merupakan kehidupan warga. Setiap tahun dilakukan metri atau selamatan sumber,” ata Ariyono. Bahkan untuk ritual tertentu, warga senantiasa mengambil air dari Sumber Belik Sumo. Sampai saat ini, warga juga tetap mematuhi larangan atau pantangan adat. Bagi ibu melahirkan, selama masa nifas atau 40 hari setelah melahirkan dilarang ke sumber. (val)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru