More
    BerandaUncategorizedMenjaga Ruang Kebudayaan Surabaya: Upaya Kolaborasi, Bukan Eliminasi

    Menjaga Ruang Kebudayaan Surabaya: Upaya Kolaborasi, Bukan Eliminasi

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 28 Maret 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Dinamika yang berkembang terkait pengelolaan ruang kesenian di Balai Pemuda telah memunculkan beragam persepsi di tengah masyarakat, khususnya para pelaku seni dan budaya, yang seolah hadirnya Dewan Kebudayaan Surabaya akan menggusur lembaga lembaga kesenian yang ada sebelumnya.

    Sebagai tanggung jawab moral saya, yang pernah menjadi bagian dalam rangka mewujudkan Dewan Kebudayaan Surabaya, perlu saya sampaikan bahwa tidak ada niat sedikitpun hadirnya lembaga ini yang saya terlibat dalam membidaninya untuk mengeliminasi lembaga lembaga yang ada, justru ini hadir sebagai wadah kolaborasi dan menjadi jembatan hadirnya pemerintah kota dalam mewujudkan kepeduliannya terhadap bertumbuhnya kebudayaan dan kesenian di Surabaya.

    Kegelisahan yang muncul adalah sesuatu yang dapat dipahami, karena semua pihak memiliki kecintaan yang sama terhadap keberlangsungan kebudayaan di Kota Surabaya.

    Namun demikian, perlu ditegaskan secara jernih dan proporsional bahwa tidak ada sedikit pun niat dari Wali Kota Surabaya untuk menggusur, menghapus, atau menegasikan keberadaan lembaga-lembaga kebudayaan yang telah ada.

    Justru sebaliknya, Pemerintah Kota Surabaya hadir dengan semangat merangkul, menata, dan menumbuhkan gairah berkreasi di ruang-ruang publik kota.

    Kebijakan yang diambil merupakan bagian dari upaya menghadirkan tata kelola kebudayaan yang lebih kuat, berkelanjutan, dan selaras dengan amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.

    Dalam konteks ini, kehadiran Dewan Kebudayaan Surabaya dimaksudkan sebagai wadah strategis untuk menjembatani kepentingan, memperkuat ekosistem, serta memastikan dukungan pemerintah dapat tersalurkan secara tepat dan akuntabel.

    Penting untuk dipahami bahwa:

    Dewan Kebudayaan Surabaya bukan pengganti lembaga-lembaga kebudayaan yang telah ada.

    Dewan Kebudayaan Surabaya bukan pula alat untuk melebur atau menghapus identitas komunitas seni.

    Sebaliknya, Dewan Kebudayaan Surabaya dihadirkan sebagai ruang kolaborasi, di mana berbagai lembaga seperti Dewan Kesenian, Bengkel Muda, dan komunitas-komunitas seni lainnya dapat tetap eksis, berkembang, dan saling menguatkan tanpa harus kehilangan jati dirinya.

    Wali Kota Surabaya memandang bahwa kekuatan kebudayaan kota justru terletak pada keberagaman ekspresi dan independensi komunitasnya. Karena itu, pendekatan yang dibangun adalah kolaborasi tanpa harus melebur, sinergi tanpa harus menyeragamkan.

    Dalam berbagai dialog yang telah dilakukan, tergambar jelas bahwa Pemerintah Kota memiliki kepedulian yang tinggi terhadap keberlangsungan kegiatan seni dan budaya.

    Penataan yang dilakukan bukanlah pembatasan, melainkan upaya untuk membuka ruang publik yang lebih sehat, tertib, dan dapat diakses oleh lebih banyak pihak.

    Semangat yang ingin dibangun adalah menjadikan Surabaya sebagai rumah bersama bagi seluruh pelaku seni dan budaya—sebuah kota yang tidak hanya menyediakan ruang fisik, tetapi juga ruang ekspresi, ruang tumbuh, dan ruang kebersamaan.

    Di sinilah pentingnya menjaga cara pandang yang saling menghargai:

    Pemerintah Kota Surabaya berada pada posisi yang benar dalam niatnya untuk menata dan memfasilitasi.

    Para pelaku seni dan lembaga kebudayaan berada pada posisi yang benar dalam menjaga ruang ekspresi dan keberlanjutan karya.

    Semua yang ada adalah penting dan dibutuhkan. Yang harus diwujudkan adalah memperkuat komunikasi, membuka ruang dialog, dan membangun kepercayaan bersama.

    Ke depan, diperlukan langkah konkret berupa:

    Penguatan forum dialog yang setara dan inklusif.

    Perumusan mekanisme pengelolaan ruang budaya yang transparan dan berkeadilan.

    Penguatan kolaborasi lintas lembaga tanpa menghilangkan identitas masing-masing.

    Semangat ini sejalan dengan karakter khas arek Suroboyo: terbuka, egaliter, dan guyub. Sebuah semangat yang menjadikan perbedaan bukan sebagai jarak, melainkan sebagai kekuatan.

    Mari kita rawat bersama Surabaya sebagai kota yang hidup dari denyut kebudayaannya—kota yang menjadikan kebersamaan sebagai fondasi, dan kolaborasi sebagai jalan ke depan.

    Surabaya adalah rumah kita bersama.

    Suatu saat saya membayangkan bahwa di Balai Pemuda itulah, disebuah ruangan, Dewan Kebudayaan Surabaya , menjadi jembatan lembaga lembaga yang ada, Dewan Kesenian, Bengkel Muda dan yang lain lainnya berdiskusi menghidupkan kembali atmosfir kebudayaan dari jantung kota menuju ke kampung kampung dan perilaku masyarakat kita yang santun dan saling menghargai serta menghormati, sejarah akan berulang kembali bahwa semua pegiat kesenian dan kebudayaan duduk bersama, berdialog dalam ruangan bersama.

    Hormat saya,

    M. Isa Ansori

    Mantan Wakil Ketua Tim Transformasi Lembaga Kebudayaan Surabaya

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru